Sabtu, 14 Juli 2012

KEPADA SIAPA KITA HARUS TAKUT?



Perasaan takut adalah perasaan yang  timbul dalam  jiwa yang kemudian mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu, baik itu perkataan atau perbuatan.
maka jangan heran jika mendapatkan seseorang takut untuk mengucapkan satu kalimat atau melakukan satu perbuatan dikarenakan didalam jiwanya ada rasa takut, baik itu rasa takutnya terhadap manusia ataupun kepada Allah, tergantung siapa yang ia sembah. Jika ia betul menyembah Allah maka pastilah ia lebih takut  pada Allah. Tapi jika ia menyembah selain  Allah maka rasa takutnya kepada selain Allah itu akan mengalahkan rasa takutnya pada Allah, wal’iyadzu billah.
Oleh karena itulah para ulama kita memasukkan rasa takut ini kedalam pembagian syirik yang disebut dengan syirik al-khauf.
Syirik –al-kahuf adalah merasa takut kepada makhluk yang berlebihan sehingga  mengalahkan rasa takutnya pada Allah, padahal tidak ada yang patut kita takuti kecuali Allah Subuhanahu Wata’la. Allah Subuhanahu Wata’la berfirman:
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً}
Artinya: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. (Q.S An-nisa’: 77)
Padahal dalam ayat lain Allah telah berfirman:
{فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}
Artinya: maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S Al-Imran : 175)
Begitulah keadaan orang-orang munafik, mereka lebih takut pada makhluk dari pada takut kepada Allah. Dan adapun orang yang beriman, mereka tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, karena mereka yakin dan sangat beriman dengan ayat-ayat dan janji-janji Allah Untuk orang yang takut kepada-Nya. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ}
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al-Mulk :13)

Dan Allah berfirman:
{الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ}
Artinya: (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Q.S Al-Anbiyaa’: 49)
Ingatlah wahai Hamba Allah! Dizaman yang penuh dengan fitnah ini, begitu banyak cobaan-cobaan hidup yang harus dihadapi oleh kita, termasuk cobaan yang datang dari makhluk-makhluk Allah, baik itu dari orang-orang-orang kafir ataupun munafik. Apabila kalian menemukan mereka menakut-nakutimu dengan ancaman dan azab mereka, maka teguhkanlah pendirianmu pada jalan Allah. Karena ancaman mereka itu adalah datang dari syetan melalui pemimpin-pemimpinya, Sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala berfirman:
{إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}
Artinya: Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S Al-Imran : 175)
Semua itu adalah cobaan bagi orang-orang yang beriman. Untuk mengetahui seberapa teguhnya seorang Hamba dalam berpegang teguh terhadap kebenaran. Seberapa kuat seorang hamba dalam menahan segala cobaan,  jika ia mampu dan kuat melewati semua cobaan itu, maka kemuliaan dari Allah yang ia dapatkan. Jadilah seperti para ulama Allah wahai saudara-saudaraku! karena merekalah yang paling takut kepada Allah. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّما يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَماءُ}
Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (Q.S Al-Fathir: 28)
Dan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfieman:
{أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ* الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَياةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ*}
Artinya: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.  (Q.S Yunus: 62-63)
Apapun yang menimpa mereka, tidak akan menjadi penghalang untuk selalu mengatakan kalimat yang haq. mereka selalu sabar dan tabah dalam menghadapi tantangan atau makar apapun yang dibuat oleh musuh-musuh Allah. Mereka tidak akan berhenti dalam menyuarakan kebenaran lantaran pemimpin-pemimpin thogut menakut-nakutinya. Mereka tidak pernah takut sedikitpun pada makhluk Allah, hati mereka tidak pernah gentar dengan bentuk ancaman apapun, bahkan itu menambah iman mereka. Merekalah yang dipuji oleh Allah Subuhanahu Wata’ala Dalam Firmanya.
{الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ}
Artinya: (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (Q.S Al-Imran : 173)
Dan seperti itulah seharusnya kita lakukan. Hidup yang penuh fana akan berujung pada kemuliaan atau pada kehinaan, itulah yang disebut dengan surga dan neraka. Kemanakan jatuh pilihan kita??? Jika kita selalu takut pada Allah dengan selalu ta’at dan patuh terhadap  perintahnya dan menjauhi segala laranganya maka kebahagiaanlah ujung kehidupan kita. Tapi, jika sebaliknya maka apalah yang akan kita dapatkan kecuali kehinaan.Wal-‘Iyadzu Billah, Nas’alullah Salamatan Wal-‘Afiyah
Oleh karena itulah wahai hamba Allah, jika kita dihadapkan dengan dua pilihan “ Thogut atau Allah?” maka wajib bagi kita untuk memilih Allah, karena Allahlah yang telah menghidupkan kita, memberikan rizki kepada kita, yang telah menunjukkan jalan yang lurus untuk kita dan kepadanyalah kita kembali. Dan tidak patut bagi kita untuk memilih yang lain, sekalipun kita diancam dengan kematian. Tidak layak bagi kita untuk takut pada para thogut dan ancamanya,  karena ancaman Allah lebih pedih lagi keras.
Jangan pernah takut untuk mengatakan kebenaran, dan menda’wahkanya disemua manusia sampai datang ketentuan Allah. Sekalipun ancaman datang dari segala arah. Tarbiyyah Nabawiyyah yang datang dari Allah yang maha mulia itulah yang patut kita jadikan cerminan dan uswatun hasanah, lihatlah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihi Wasallam ketika ditakut-takuti oleh kaumnya dikarenakan ia menda’wahkan kebenaran, ini terlukis jelas dalam Firman Allah Subuhanahu Wata’ala:
{وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ}
Artinya:“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka)?” (Q.S Al-an’am : 81)
Dan Firman Allah Subuhanahu Wata’ala:
{ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ}
Artinya: ." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" (Q.S Al-an’am : 80)
Dan lebih jelasnya, tertera sempurna kisah itu dalam firman Allah dibawah ini, ini semua kita renungkan untuk kemudian kita amalkan dalam kehidupan kita, inilah manhaj Rabbaniyyah dan tarbiyyah nabawiyyah yang harus kita ambil dan aplikasikan dalam venomena riil dizaman fitnah ini, Allah berfirman:
{ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لاَِبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً ءَالِهَةً إِنِّى أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَالٍ مُّبِينٍ  *وَكَذَلِكَ نُرِى إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ* فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَذَا رَبِّى فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لاأُحِبُّ الاَْفِلِينَ*  فَلَمَّآ رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَذَا رَبِّى فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لاََكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّآلِّينَ*  فَلَماَّ رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَاذَا رَبِّى هَاذَآ أَكْبَرُ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يا قَوْمِ إِنِّى بَرِىءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ*  إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ حَنِيفاً وَمَآ أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ*  وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّى فِى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِى وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْئاً وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ  *وَكَيْفَ أَخَافُ مَآ أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَىُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالاَْمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ*  الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَائِكَ لَهُمُ الاَْمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُونَ*  وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَآءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ*  }
Artinya: “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al-An’am : 74-83)
Dengan banyaknya venomena yang tidak bisa kita pungkiri dizaman sekarang, maka perlu manhaj yang benar bagi kita untuk bagaimana cara menghadapi ancaman-ancaman da’wah dan amar ma’ruf nahi mungkar yang wajib kita lakukan sehari-hari. Kalau saja dulu fir’aun mengancam Nabi Musa ‘Alaihi Wasallam akan dibunuhnya kemudian Nabi Musa tidak takut sedikitpun pada ancaman si thogut itu, maka seperti itulah seharusnya kita bersikap dalam menghadapi para thogut yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri. Allah Subuhanahu Wata’ala berfirman:
{ فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ*  قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ  *فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ*  }
Artinya: Maka setelah kedua golongan itu saling  melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Q.S Asyu’araan’ :61-63)
{وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقاً فِي الْبَحْرِ يَبَساً لا تَخَافُ دَرَكاً وَلا تَخْشَى}
Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)."(Q.S Thoha: 77)
Begitupun ketika kebenaran tampak jelas dihadapan kaum Nabi Musa yang kemudian mereka beriman dengan Allah yang mengutus Nabi Musa dan membenarkan da’wah Nabi Musa, kemudian fir’aun thogut laknatullah mengancam mereka dengan ancaman nyawa, akan tetapi mereka tetap sabar dalam menghadapi semua itu. Ini dilukiskan Allah dalam firmaNya:
{قَالَ فِرْعَوْنُ آمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّ هَذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ * قَالُواْ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ * وَمَا تَنقِمُ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ*}
Artinya: Fir'aun berkata: "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya." Ahli-ahli sihir itu menjawab: "Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (Q.S Al-A’raf : 123-126)
Dan Nabi Musapun menasehati mereka dengat kalimat yang meneguhkan pendirian dan keyakinan mereka, allah berfirman:
{قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ}
Artinya: Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Q.S Al-A’raf : 128)
Atau lihatlah kisahnya Nabi Ibrahim ‘Alaihi Wasallam dan Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wasallam, ketika kaumnya membuat makar terkadap mereka maka mereka menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subuhanahu Wata’ala, ini terlukis jelas didalam hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam diriwayatkan dalam Shohih Bukhari:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ {حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا {إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ}
Artinya: Dari Ibu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu: “Hasbunallah Wani’mal Wakil” dikatakan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihi Wasallam ketika dilempar kedalam api, dan dikatakan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wasallam ketika  orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (H.R Bukhari, nomor Hadits 4563)
Inilah manhaj yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita wahai saudaraku! Manhaj Nabawiyyah yang diwariskan oleh para Nabi kita dalam menghadapi ancaman  musuh-musuh Allah. Iman yang kuat harus terus kokok dalam jiwa, kalimat kebenaran harus terus mengalir dari bibir kita, persangkaan baik kita  pada Allah harus terus tertanam dalam jiwa. Jika kita seperti itu,  maka ancaman apapun tidak akan membuat kita berpaling dari kebenaran. Ketika menghadapi ancaman makhluk, maka ingatlah dengan ancaman Allah untuk orang-orang yang ingkar terhadapnya, maka insya Allah hati kita akan terus teguh dalam kebenaran sampai datang ketentuan Allah.
Mari kita lihat  dan renungkan kisahnya para sahabat Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam! kisah dibawah ini dilukis jaga oleh syekh kami dalam bukunya: “ Yaa Ummatal Islam Al’isti’la’u bil Iman”. Beginilah kisahnya:
1.Muhammad  Bin Ishak Berkata: “ Dari Ka’ab Al-Ahbar, sesungguhnya Habib Bin Zaid menyebutkan kepadanya apa yang terjadi denganya. Musailamah  Sang Pendusta menghalanginya diyamamah, kemudian menanyakan kepadanya keadaan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan bertanya: “ apakah Engkau bersaksi sesungguhnya Muhammad Adalah Rasul Allah? Dia menjawab: “iya”. kemudian ditanya lagi, apakah engkau menyaksikan sesungguhnya Saya Rasul Allah? Maka dia menjawab: saya tidak mendengar, kemudian Musailamah Laknatullah berkata kepadanya: “ apakah kamu mendengar ini dan tidak mendengar itu? Dia menjawab: “iya” kemudian dia di potong sedikit demi sedikit disetiap pertanyaanya, dan jawabanyapun tidak berubah sampai ia mati ditangan Musailamah. Maka  Ka’ab berkata ketika dikatakan kepadanya nama Habib: “ Demi Allah dia adalah penghuni yas namanya habib”.
2.Dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu Berkata: “ orang-orang yang pertama kali menampakkan keislamanya ada tujuh: Rasullah Shollallahu ‘alaihi waslallam, Abu bakar, Ammar dan Ibunya Samiyah, Shohib, Bilal dan  Miqdad. Adapun Rasulullah dilindungi Allah melalui Pamanya Abu Tholib, dan adapun Abu Bakar dilindungi oleh Kaumnya, dan adapun yang lainya diambil oleh orang-orang musyrik. Mereka dirantai dengan besi dan dijemur diterik matahari, maka tidaklah manusia keculi datang kepada apa yang mereka inginkan kecuali bilal, maka sesungguhnya dia merendahkan dirinya kepada Allah dan kaumnya. Kemudian mereka menyerahkanya  pada anak-anak kecil.  anak-anak itu mengambilnya dan mengaraknya  sepanjang  jalan dikota mekkah sedangkan bilal terus berka “ahad, ahad”.(Diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Hakim Dan Menshohihkanya, Dan Ibnu Habban Didalam Shohihnya)
3.Didalam Sira A’lamul Nubalaa’ : Dari Jalur Muhammad  Bin Khalid At-Thohan Ayah saya menghabarkan kepada kami dari Daud  dari Sya’bi ia Berkata: “ adalah para tuanya bilal mereka berbaring diatas perutnya bilal dan mereka mencegahnya dari islam dan mereka berkata: “ Agamamu Adalah Lata Dan ‘Uzza, kemudian dia menjawab: “ tuhanku  adalah Allah yang  esa lagi maha Tunggal, jika aku mengetahui kalimat yang lebih dari ini yang membuat kalian marah maka aku akan mengatakanya. Maka lewatlah Abu Bakar kepada mereka, kemudian mereka berkata: belilah saudaramu ini untuk kau bawa didalam agamamu, maka Abu Bakar membelinya dengan empat puluh auqiyah, kemudian memerdekakanya. Mereka berkata: jika kamu menolak untuk membelinya kecuali dengan saru auqiyah maka kami akan menjualnya. Abu Bakar Menjawab: “ dan aku bersumpah demi Allah jika kalian abai (dengan harga yang aku tawarkan) kecuali dengan harga segini dan segini maka sungguh aku akan memebelinya”.
( Sanad Ini Adalah Mungqothi’, Dan Ini Termasuk Riwayat Mursal  As-Sya’by ).
Itulah beberapa kisah dari sekian banyak kisah yang harus kita ambil pelajaran darinya, agar hati dan iman kita selalu teguh dan kuat dalam jiwa ketika menghadapi segala cobaan yang datang dari makhluk. Tidak sepantasnya rasa takut kita dikalahkan oleh rasa takut pada makhluq-Nya. Cukuplah pada Allah tempat kita berlindung. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ*  وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ* }
Artinya: Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? (Q.S Az-zumar: 36)
{وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ}
Artinya: dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal. (Q.S Al-Mujaadalah:10)
Ingatlah bahwa siapapun tidaka akan bisa membahayakan kita kecuali atas kehendak allah, maka kita tidak perlu takut dengan makar siapapun yang ingin menghancurkan semangat dalam menyuarakan dan menegakkan kebenaran. Itulah hukum Allah Subuhanahu Wata’ala. Mohonlah pada Allah agar kita dikuatkan hati dalam kebenaran dalam menegakkan hukum Allah maka niscaya Allah akan memberikan kepada kita petunjuk-Nya, Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ }
Artinya: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(Q.S At-taubah: 18)
Maka adapun orang yang menghalang-halangi hamba Allah yang meneggakkan hukum Allah dan melawan kesyirikan, tiadalah mereka kecuali tentara-tentara syetan yang terlaknat, dan syetan adalah pemimpin bagi orang-orang yang kafir. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ}
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S Al-A’raf: 27)
Dan para thogut serta bala tentaranya menjadikan syetan sebagai pemimpinya sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ}
Artinya: Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Q.S Al-A’raf: 30)
Padahal makar syetan itu sunggu snagat lemah, lalu kenapa kita harus takut? Dan na’udzubillahnya lagi adalah jika rasa takut itu mengalahkan rasa takut kita pada Allah (dan jika telah sampai ditingkat ini maka rasa takut itu akan menjadi menjadi syirik, itulah yang dinamakan dengan syirik khauf)…wahai kaum muslimin, saya ingatkan lagi, bahwa tipu daya syetan itu adalah lemah, sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً}
Artinya:Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Q.S An-nisaa’: 74)
Istiqomah adalah sangat penting dalam berda’wah, yaitu selalu mengatakan kebenaran dalam keadaan apapun dan kepada siapapun maka Insya Allah kita tidak akan takut terhadap siapapun dan tidak akan gentar sedikitpun terhadap musuh manapun sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيها جَزَاءً بِما كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Al-ahqqaf :13-14)
Dizaman yang penuh dengan fitnah ini, berapa banyak orang-yang murtad dari agama Allah baik secara sadar atau tidak sadar itu salah satunya disebabkan karena ia terlalu takut kepada makhluk daripada takut pada allah. Bahkan ia berani berbuat dan berkata yang itu mengeluarkan ia dari islam hanya karena ia takut secara berlebih-lebihan pada makhluk. Kita harus lebih hati-hati wahai hamba allah dalam hal yang semacam ini, kita tidak boleh memudahkan lisan kita untuk mengikuti kata kufur mereka kecuali dalam keadaan yang betul-betul darurat dan hanya satu keadaan itu yang dibolehkan islam selain itu maka kita tidak boleh mengucapkan kata kufur. Dan itupun punya syarat yaitu hati kita tetap beriman, dan tidak kurang sedikitpun rasa iman kita pada allah, tidak timbul sedikitpun rasa wala’ kita pada mereka, kita mengucapkannya hanya untuk selamat dari ancaman nyawa itu. Tapi jika selain dari ancaman nyawa maka haram kita untuk mengucapkan kata kufur, cambukan dan pukulan serta azab mereka lebih mulia bagi kita dari pada mengucapkan kata kufur. Satu keadaan yang diperbolehkan islam itu adalah :
{إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنْ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}
Artinya : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” (Q.S An-nahl: 106)
Ini seperti yang terjadi pada kaum Nabi musa ‘alaihi wasallam, mereka menyembunyikan iman mereka karena takut terhadap azab fir’aun. Allah berfirman: 
{فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَأِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ}
Artinya: Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Q.S Yunus: 83)
Dan seperti ini pula yang terjadi pada kaum muslimin yang ada di andalus dulu, mereka menyembunyikan rasa keimananya dihadapam kaum dzolim pada saat itu. Seperti halnya juga yang dilakukan amar bin yasir.
Akan tetapi jika waktu telah memungkinkan untuk meneriakkan kata keimanan maka tidak boleh terus menyembunyikan keimanan kita, bahkan wajib bagi kita untuk mendakwahkanya disetiap ummat yang kita temui. Dan Insya Allah,  Allah akan selalu bersama kita. Dn begitulah yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita. Merekan hanya menyembuntikan keImananya ketika diancam tapi jika keadaan sudah aman maka mereka menampakkan keimananya dan mereka beribadah pada Allah sesuai dengan keadaan dan kemampuan mereka.dan itulah yang diperintahkan oleh  Rasulullah Shollallabu ‘Alaihi Wasallam Sebagaimana Dalam Sabdnya:
عَنْ أَبِى عُبَيْدَةَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : أَخَذَ الْمُشْرِكُونَ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ فَلَمْ يَتْرُكُوهُ حَتَّى سَبَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَذَكَرَ آلِهَتَهُمْ بِخَيْرٍ ثُمَّ تَرَكُوهُ فَلَمَّا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَا وَرَاءَكَ؟ ». قَالَ : شَرٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تُرِكْتُ حَتَّى نِلْتُ مِنْكَ وَذَكَرْتُ آلِهَتَهُمْ بِخَيْرٍ. قَالَ :« كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ ». قَالَ : مُطْمَئِنًا بِالإِيمَانِ. قَالَ :« إِنْ عَادُوا فَعُدْ ».
Artinya: Dari Abi Ubaidah Bin Muhammad Bin Ammar Bin Yasir Dari Bapaknya Ia Berkata: Amar Bin Aysir di ambil oleh Kaum Musyrikin dan tidak dilepasnya sampai ia menghina Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, dan menyebutkan bahwa tuhan mereka baik. Kemudian mereka meninggalkan Amar, ketika ia datang kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam . Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam  bertanya: apa yang ada dibelakangmu? Ia Menjawab: kejelekan Wahai Rasulullah! Aku tidak ditinggalkanya sampai aku mencacimu dan mengatakan bahwa tuhan mereka baik. Rasulullah Bersabda: bagaimana dengan hatimu? Ia Menjawab: tenang dengan iman, Rasulullah Bersabda: jika mereka pulang maka kembalilah ( keislam). (H.R Baihaqi)
Ini adalah dalil bahwa barang siapa  yang mencaci maki Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam  maka ia kafir. Oleh karena itu perlu rasanya kita betul-betul merenungi janji-janji Allah terhadap hamba yang betul-betul menyembah-Nya dan istiqomah terhadap itu, agar hati  terus terikat dengan ketakutan terhadap Allah,  bukan kepada yang lain-Nya. Takut berbuat dan berkata yang mengeluarkan diri dari millah, dan selalu ingat azab Allah terhadap orang yang melakukan hal itu.  Ketika seorang hamba telah mencapai derajat itu maka segala yang ia miliki akan dikorbankannya untuk Allah dan Agama-Nya., baik itu hartanya yaitu dengan cara menafkahkanya dijalan Allah atau bahkan nyawanya sekalipun yaitu dengan berjihad dijalan Allah. Mereka akan saling bersikap lemah lembut antar sesama muslim,  keras terhadap orang kafir dan munafik serta saling mencintai antara satu sama lain dengan betul-betul cinta karena Allah. Dan  meeka melakukan semua itu tanpa rasa takut terhadap musuh-musuh Allah yang berusaha menghalang-halangi mereka dalam berinfak, jihad dan wala’ terhadap sesama muslim. Inilah yang  digambarkan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ}
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (Q.S Al-Maidah :54)
Ingatlah wahai hamba allah! Bagi yang telah dikaruniai Allah harta atau rizki yang banyak maka infakkanlah sebahagian harta anda dijalan Allah untuk kepentingan dakwah islam, dan janganlah takut terhadap siapapun yang menghalang-halangi anda untuk infak dijalan Allah, dan jangan bersedih hati karena kurangnya harta anda maka balasan yang berlipat ganda bagi anda disisi Allah, Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala Berfirman:
{مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنّاً وَلا أَذىً لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S Al-Baqarah: 261-262)
Dan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهارِ سِرّاً وَعَلانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya:  Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S Al-Baqarah: 274)
Disini, kami membahas manhaj yang harus kita lakukan ketika dihadapkan ancaman-ancaman yang berusaha memalingkan kita dari kebenaran bahakan dengan azab itu mereka ingin kita murtad bersama mereka, semoga  Allah selalu melindungi kita dari hal-hal seperti itu.
Oleh karena itu ketika kita dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur maka istiqomahlah terhadap Tauhid, Bertakwalah kepada Allah dan jangan biarkan  kalimat  kufur itu mengalir dari mulut kita, Kita Selalu Mengikuti Petunjuk Allah Subuhanahu Wata’ala dan Petunjuk Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya: Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.  (Q.S Al-An’am: 48)
{فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدىً فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya: Kami berfirman: "Turunlah  kamu  semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada  kekhawatiran  atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Q.S Al-Baqarah: 38)

MENGHIDUPKAN SUNNAH DITENGAH-TENGAH ZAMAN FITNAH

Islam adalah Agama yang mulia disisi Allah menda’wahkanya adalah kewajiban bagi kita. Agama yang mulia yang ini dibawa oleh Rasul Allah yang mulia. Dan beliau adalah penutup para Nabi. Ini ditunjukkan oleh dalil-dalil yang kuat baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah Maupun Ijma’ Para Sahabat Dan Ulama Salafussholeh.
Adapun Dalil Dari Al-Qur’an adalah Firman Allah Subuhanahu Wata’ala:
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً}
Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu. tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup  Para Nabi. Dan Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
(Q.S Al-Ahzab :40)
Dalil Dari Hadits adalah:
 Rasullullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ قَالَ خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ؟ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ».
Artinya: dari sa’ad bin abi waqqas ia berkata: “ Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menempatkan Ali Bin Abi Tholib di Madinah ketika perang tabuk, kemudian ali bin abi tholib berkata: “Wahai Rasulullah! Baginda menempatkan aku pada perempuan dan anak-anak?”. Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Menjawab: “ apakah engkau tidak rela berada disisiku seperti posisi harun terhadap musa, Yang sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku?”.(H.R Muslim, Hadits Nomor 2404)
Juga Sabda Rasullullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
Artinya: Dan adalah Nabi diutus Allah khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus Allah kepada seluruh manusia ”. (H.R Bukhari)
Kedua hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada Nabi setelah Rasullullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, dan beliau adalah penutup para Nabi.
Dari Dari Ijma’ Para Sahabat adalah:
وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِى أُمَّتِى لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى الأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى كَذَّابُونَ ثَلاَثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى وَلاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى عَلَى الْحَقِّ  ظَاهِرِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ ».
Artinya: Sesungguhnya aku hanya takut kepada umatku  lahir pemimpin-pemimpin yang menyesatkan, dan apabila pedang telah diletakkan didalam umatku tidak akan diangkat sampai hari kiamat. Dan tidak akan terjadi hari kiamat sampai datang beberapa kelompok dari ummatku dengan orang-orang musyrik  dan sampai beberapa kelompok dari ummatku menyembah patung-patung. Dan sesungguhnya akan lahir dari ummatku tiga puluh pendusta dan mereka semuanya mengatakan dirinya adalah Nabi. Dan saya adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku. Dan tidak akan hilang satu kelompok dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, dan mereka selalu berada diatas kebenaran itu, mereka tidak takut terhadap orang yang menentang mereka sampai datang ketentuan
Allah”.(H.R Abu Daud, Hadits Nomor 4254)
Oleh karena itulah ketika Musaimah Al Kazzab mengaku dirinya sebagai Nabi setelah Rasulullah langsung diperangi oleh Abu Bakar dan Para Sahabat Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena ia ingkar terhadap Ayat Allah dan perkataan Rasululullah yang mengatakan bahwa tidak ada Nabi setelah Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. dan siapapun yang mengaku dirinya Nabi maka wajib diperangi.
Dalil Dari Ijma’ Para Ulama Shalafussholeh adalah:
Para ulama sepakat. Barang siapa yang mengaku dirinya Nabi  setelah Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam maka ia kafir murtad, dan wajib dibunuh atau diperangi. Dengan berdalilkan ayat dan hadits-hadits diatas.
Akan tetapi wahai kaum muslimin! Apa yang dikabarkan Rasul kita adalah betul terjadinya. Lahirnya Nabi-nabi palsu dan Pemimpin-pemimpin yang menyesatkan ummat telah terjadi dengan nyata. Sehingga itu semua menjadi fitnah bagi ummat  Rasulullah Shollallau ‘Alaihi wasallam. tidak sedikit manusia yang terpengaruh dengan da’wah mereka. Seperti yang terjadi zaman sekarang, pemimpin-pemimpin thoghut selalu menda’wahkan hukum demokrasi sesat atau yang serupa dengan itu. Dengan segala cara mereka sesatkan manusia dalam hal ini. mulai dari cara yang paling halus sampai kepada cara yang paling keras, bahkan tidak segan-segan mereka membuat aturan khusus untuk orang-orang yang menolak hukum demokrasi. Seperti halnya mereka menfitah orang-orang yang menolak hukum itu dengan sebutan-sebutan hina lagi buruk. Sungguh ini adalah musibah yang sangat besar yang menimpa kaum muslimin dizaman fitnah ini.
Hati Mu’min mana yang tidak sedih melihat relita seperti ini. dan lebih menyedihkanya lagi adalah kurangnya pengetahuan keislaman masyarakat kita. Sehingga mereka mudah dipengaruhi, mereka mudah percaya dengan istilah-istilah para thoghut untuk kaum muslimin yang berpegang teguh pada agama mereka. Belum lagi peraturan-peraturan para pemimpin yang menyesatkan ummat itu di dukung dan disambut hangat oleh ulama-ulama mereka melalui fatwah-fatwah yang na’udzubillah min dzalik…wal’iyadzubillah wanas’alullah salaamatan wal-‘aafiyah.
Akibat dari pemimpin-pemimpin dan ulama-ulama yang menyesatkan itu adalah
Hilangnya Syari’at Allah Subuhanahu Wata’ala kemudian diganti dengan hukum sampah lagi hina yang berasal dari hawa nafsu syetan mereka, kemudian mereka berhukum dengan hukum itu terhadap hamba Allah. Allah Subuhanahu Wata’ala berfirman:
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالاً بَعِيداً}
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut,  padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (Q.S An-nisa’: 60)
Mereka merubah hukum Allah padahal Allah Telah Berfirman:
{أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَماً وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلاً وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ}
Artinya: Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (Q.S Al-An’am: 114)
Semakin merajalelanya kemaksiatan baik itu Perzinahan, Pencurian, Riba, Dan Bentuk-bentuk Maksiat Lainya.
Sempitnya Wilayah Da’wah karena dibatasi oleh pemimpin-pemimpin dzolim itu yang berakibat sedikitnya Amal Ma’ruf Nahi Munkar. Bahkan mereka dengan terang-terangan menghalang-halangi Da’wah Islam, menagkap para ulama, mendzoliminya bahkan membunuhnya. sungguh mereka adalah munafik. Bagaimana tidak, mereka selalu menghalangi Da’wah Islam sebaliknya menyuruh untuk melakukan kemungkaran dengan melegalisasikan kemaksiatan-kemaksian yang seharusnya semua itu tidak boleh bagi seorang yang mengaku dirinya muslim untuk melakukan hal itu. Maka betul apa yang dikatakan Allah Subuhanahu Wata’ala dalam firmanya:
{الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ}
Artinya: Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (Q.S At-taubah: 67-68)
Itulah sifat orang-orang kafir dan munafik. Mereka selalu saling menghimbau antara mereka untuk menghalangi Hamba Allah mendakwahkan Islam ini. mereka sangat keras terhadap orang-orang yang beriman. maka wajar  jika Allah menjanjikan mereka neraka jahannam. Dikarenakan mereka selalu memusuhi Ulama-ulama Allah dan memerangi Syariat dan Hukum-hukum Allah. Wal-‘iyadzu billah.
Oleh karena itu Wahai Kaum Muslimin! dizaman yang penuh dengan fitnah ini, mari kita selalu mendakwahkan Islam apapun tantangan dan siapapun yang mengahalangi kita. Dengan banyaknya Syariat Islam yang telah dihilangkan orang-orang munafik maka kewajiban kita untuk menampakkan kembali Syariat-syariat Allah dan Sunnah-sunnah Rasulullah itu, dengan cara Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (.Q.S At-taubah: 71-72)
Mereka menafikan jihad tholab bahkan jihad difa’ pun mereka tiadakan dengan berdalil bahwa zaman sekarang tidak ada jihad, itu semua mereka berhujjah dengan dalil-dalil yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak dibenarkan oleh Syari’at Islam. Karena itulah Ummat Islam sekarang berada dibawah kehinaan orang-orang kafir. Apa yang terjadi dizaman sekarang seperti yang digambarkan Rasul kita dalam haditsnya:
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
Artinya : Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: “ Akan datang satu ummat yang akan mengerumuni kalian seperti mereka menerumuni makanannya didalam satu wadah“. maka seorang bertanya kepada Rasulullah, apakah jumlah kami sedikit pada hari itu? Rasulullah Menjawab: “ bahkan jumlah kalian pada hari itu adalah banyak, akan tetapi kalian semua buih, bagaikan buih di air bah. Dan Allah sungguh telah mencabut dalam dada musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan sungguh Allah telah melemparkan dalam hati kalian penyakin Al-Wahn”. Maka seorang bertanya kepada Rasulullah: apakah Al-Wahn itu wahai Rasulullah! Rasulullah Menjawab : Al-Wahn adalah mencintai dunia dan benci dengan kematian”.(H.R Abu Daud, Hadits Nomor 4297)
Semoga kita semua orang yang dikecualikan allah dalam hal ini, karena jika kita masuk kedalamnya maka sungguh kita akan jadi orang yang rugi…na’udzu billah, nas’alullah salaamatan wal-‘afiyah.
Orang-orang-kafir lagi munafik  semakin leluasa dan mudah untuk menjalankan misi-misi mereka yaitu memurtadkan kaum muslimin. Dan lebih ajibnya lagi adalah mereka melakukan semua itu dengan penuh aman, seakan-akan dilindungi. Dan mereka betul dilindungi yaitu dilindungi oleh peraturan-peraturan thogut lagi nista dengan alasan kebebasan beragama, kebebebasan berpikiran, tidak ada paksaan dalam agama, dan alasan-alasan busuk lainya. Na’udzubillah
Maka jangan heran jika anda melihat orang-orang barat lagi kafir datang dengan mobil-mobil bagus ketempat-tempat kaum muslimin dengan alasan pertama membantu kemudian mengajak mereka untuk masuk agama mereka. Maka akibat dari semua ini adalah banyaknya umat islam yang murtad.
Wahai Kaum Muslimin! Bagaimanapun juga ganasnya zaman sekarang karena dipenuhi oleh berbagai bentuk kesyirikan dan kemaksiatan maka disanapun ada sunnatullah yang wajib untuk ada yaitu lahirnya ulama-ulama allah yang selalu mendakwahkan islam yang murni dan sabar serta tidk takut terhadap siapapun yang menentangnya. Itulah mereka yang disebut Rasulullah Dalam Haditsnya:
« إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
Artinya: “ Sesungguhnya Allah akan mengutus dari umat ini disetiap seratus tahun orang yang akan memperbaharui agamanya”. (H.R Abu Daud, Hadits nomor 4291)
Abu Ahmad Berkata, Muhammad Bin Ali Bin Husain Berkata, Saya mendengar para sahabat kami berkata: pembaharui yang seratus tahun pertama adalah Umar Bin Abdul Aziz dan yang seratus tahun ke-dua adalah Muhammad Bin Idris Asy-Syafi’i.
Syekh Ahmad Berkata:  dan kami meriwayakan dari Ahmad Bin Hambal sesungguhnya ia berkata: Umar Bin Abdul Aziz adalah diseratus tahun pertama dan aku berharap Asy-Syafi’i diseratus tahun selanjutnya. (Disebutkan  Al-Baihaqi Dalam Kitabnya Ma’rifatussunan wal aatsaar)
Mujaddid adalah orang yang memperbaharui Islam yang telah dirusak oleh manusia, menghidupkan Sunnah-sunnah Rasulullah yang telah lama mati dan dilupakan manusia, menjelaskan kebenaran yang hakiki dari al-qur’an dan as-sunnah kepada ummat, menda’wahkan dan mengamalkan sunnah-sunnah itu. Melawan bid’ah-bid’ah yang telah tersebar bahkan telah dianggap adat dan sunnah oleh manusia.
Begitulah yang dilakukan oleh Abu Bakar Assiddiq, Umar Bin Abdul ‘Aziz, Iman Asy-Syafi’i, Imam Ahmad Bin Hambal, Sholehuddin Al-Ayuby, Muhammad Al-fathih, Muhammad Bin Abdul Wahab, Ibnu Taimiyyah Dan Begitupun Yang Dilakukan Oleh Osama Bin Laden.
Osama Bin Laden Rahimahullah Dan Hafidzohullah adalah salah satu mujaddid dizaman yang penuh dengan thogut ini. dikala manusia menta’thil jihad dengan mengatakan bahwa jihad tholab tidak ada bahkan mereka mengatakan dan menafikan sama sekali adanya jihad, maka beliau datang dan meneriakkan dengan suara yang keras disetiap saat,  bahwa jihad akan tetap ada sampai hari kiamat. Lebih-lebih pada zaman yang penuh dengan syirik ini. yaitu jihad melawan-orang-orang kafir dan munafik yang dulu mereka dipimpin oleh josh bush laknatullah yang kemudian sekarang diganti oleh obama si iblis terlaknat.
Tidakkah  anda melihat dan menyaksikan dizaman fitnah ini, hampir semua pemimpin-pemimpin Thogut mengatakan jihad adalah bentuk teror dan mujahid adalah teroris, dan juga tidak ketinggalan Ulama-ulama thoghut yang menjual fatwahnya dengan dinar dan dirham, na’udzu billah. Mereka terus memerangi Mujahid-mujahid Allah dengan fatwah-fatwah murahan mereka. Mereka mengatakan mujahid adalah drakula yang kehausan darah padahal Allah menyaksikan mereka adalah Mujahid-mujahid Allah. Mereka mengatakan mujahid adalah perusak dan pembunuh nyawa yang tidak bersalah padahal Allah menyaksikan para mujahid adalah tentara-tentara Allah dibumi yang selalu berjuang melawan kesyirikan. Dari manakah mereka mendapatkan perkataan-perkataan itu? Kalau memang mereka menafikan jihad lalu menurut mereka cara untuk menghancurkan syirik-syirik itu dengan cara apa???, semoga allah melindungi kita dari fatwah-fatwah yang hina itu…!!!
Lalu datang Mujaddid, Mujahid, Mu’allim Abu Abdullah bin Laden membantah pempimpin-pemimpin dan ulama-ulama yang menyesatkan umat itu dengan terus berjuang untuk mendakwahkan dan mengamalkan kalimat jihad. Dan cukup menggentarkan dunia-dunia kafir. Dan beratsar bagi pemuda-pemuda Islam yang berujung pada menghidupkan Sunnah Rasaulullah (jihad) yang hampir disemua benak ummat seakan-akan telah hilang.
Wahai kaum muslimin! Ingatkah anda dengan sebuah kisah, itulah kisah yang tidak akan terhapus sampai hari kiamat. Ketika Imam Ahlussunnah Imam Ahmad  Rahimahullah Ta’ala dipenjara ketika Fitnah Al-Qur’an Adalah Makhluk. Didalam penjara terdapat Ahlu maksiat yang bermacam-macam bentuknya. Ada yang dipenjara karena minum khamar, juga ada yang dipenjara karena mencuri dan sebagainya. Lalu datanglah kepada Imam Ahmad seorang dan berkata: saya sabar terhadap cambukan padahal saya adalah dipenjara karena mencuri, sedangkan imam dipenjara karena mengatakan kebenaran, dan sabarlah terhadap cambukan itu. Imam Ahmad teratsar dengan perkataan pencuri itu. Pencuri aja sabar bagaimana dengan saya yang insya Allah berada diatas kebenaran.
Begitupun dengan kisah Abu Miljan Ats-Tsaqofy Ketika dalam satu peperangan yang dipimpin oleh Sa’ad Bin Abi Waqqas. Dalam perjalanan Abu Miljan minum khamar sehingga ia mabuk. Kemudian setelah sampai dimedan perang ia di ikat dan dikurung. Karena tidak boleh menghukum dalam keadaan jihad atau peperangan oleh karena itu ia tidak di cambuk. Pada saat itu Sa’ad Bin Abi Waqqas sedang sakit sehingga tidak bisa ikut langsung dalam peperangan. Ia duduk dalam khibahnya dan memandang pasukan yang sedang tempur. Abu Miljan mendengar suara pedang dan kuda. Iapun sadar bahwa ini menandakan perang sudah dimulai dan sedang berlangsung, sedangkan ia dalam keadaan di ikat. Kemudian ia berkata ingin ikut dalam peperangan, Beliau adalah seorang Sahabat Rasulullah yang sangat pemberani dan tangguh dalam peperangan. Keluhanya itu didengar oleh Istri Sa’ad Bin Abi Waqqas, kemudian dilepasnya dan diberikanya kuda dn alat perang Sa’ad Bin Abi Waqqas. Iapun menunggang kuda itu dan memacunya dengan kencang sampai ia masuk ditengah-tengah pasukan yang sedang perang. Tidak ada seorangpun yang lewat darinya kecuali tertebas  oleh  pedangnya. Dan itu dilihat oleh Sa’ad  Bin  Abi Waqqas dari kejauhan. Sa’ad Bin Abi Waqqas kaget melihat Abu Miljan yang semangat seperti itu, dan Ia melihat pedang yang digunakan Abu Miljan adalah pedangnya begitupun kuda yang ditunggungnya itu. Setelah peperangan ia berkata: aku tidak akan memukul Abu Miljan karena ia minum khamar setelah kejadian ini. Abu Miljan Menjawab: aku tidak akan meminum khamar lagi setelah kejadian ini.
Atau silakan anda semua tengok kembali Kisah Abu Bakar Ashiddiq dalam memerangi menolak untuk bayar zakat.
Ataupun Kisah Ibnu Taimiyyah dalam melawan tatar serta aliran-aliran sesat Jahmiyyah, Mu’tazilah, Al-Asya’irah Dan Khawarij.
Atau Kisah Muhammad Al-Fatih dan Sholahuddin Al-Ayuby. Ataupun kisahnya Imam Asya-Fi’i dan Umar Bin Abdul Aziz.
Bagaimana mereka semua berjuang untuk Islam, menghabiskan umurnya untuk menda’wahkan kalim tauhid dan melawan kesyirikan dan bid’ah. Siang malam, sore dan pagi. Berjuang tak pernah lelah dengan harta dan diri mereka. Yang akhirnya semua itu berujung pada kemuliaan. Mereka semua akan selalu terlukis jaga dalam sejarah kaum muslimin sampai hari kiamat. Mereka semua telah meninggal tapi nama dan perjuangannya selalu hidup. Allah Subuhuanahu Wata’ala Berfirman:
{وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ}
Artinya: Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Q.S Al-Baqarah: 154)
Dan Allah Subuhuanahu Wata’ala Berfirman:
{وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ}
Artinya: “ Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki”.  (Q.S Al-Imran: 169)
Wahai kaum Muslimin, saya ingin mengajak diri saya khususnya dan kita semua umumnya untuk merenungi Hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam di bawah ini:
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ ».
Artinya: Dari Tsu’ban ia berkata, Rasulullah Shollallahu ‘Alahi Wasallam Bersabda: tidak akan hilang sekelompok dari umatku yang selalu menampakkan kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menentang mereka sampai datang ketentuan Allah sedang mereka terus berada diatas kebenaran itu”.(H.R Muslim, Hadits Nomor 1920)
Tidak kita ingin menjadi sekelompok ummat yang dikatakan Rasulullah itu? Dengan dahsyatnya zaman sekarang, yang hampir semua orang termakan oleh jilatan fitnahnya kecuali hamba yang dilindungi  Allah Subuhanahu Wata’ala.
Kita selalu meneriakkan kata tauhid ditengah-tengah kesyirikan, meneriakkan sunnah rasulullah di tengah-tengah bid’ah. Meneriakkan kata kebenaran ditengah-tengah kebathilan. Meneriakkan syari’at islam ditengah-tengah demokrasi. Meneriakkan keadilan ditengah-tengah kedzoliman. Meneriakkan kesabaran ditengah-tengah keputusasaan. Meneriakkan keimanan ditengah-tengah kekafiran.
Kita menjunjung tinggi islam disaat orang-orang menjunjung tinggi syirik. Mengagung-agungkan al-quran dan as-sunnah disaat manusia meninggalkan kedua pusaka itu.
Katakan kepada diri kita, apa yang kita sumbangsihkan untuk islam? Katakan kepada jiwa kita, apa yang bisa kita berikan untuk agama allah yang suci ini? katakan kepada pribadi kita, apa yang kita perjuangkan untuk islam?
Ingatlah dengan hadits Rasulullah wahai saudaraku!
« مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ ».
Artinya: Barang siapa yang menghidupkan sunnah yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala dan  pahala tehadap  orang yang mengerjakan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (H.R Muslim, Hadits nomor 1017)
Yaitu mengamalkan sunnah Rasululullah yang telah lama ditinggalkan manusia. Jika kita melakukan itu kemudian ditiru oleh orang lain dan mereka mengmalkanya maka pahalanya akan terus mengalir sekalipun kita telah meninggal dunia.
Mari kita amalkan hadits ini didalam setiap amalan yang baik. Mari kita apliksikan didalam semua aspek kehidupan kita. Mari kita hidupkan kembali Sunnah-sunnah yang telah  menjadi tabu dihadapan ummat. Seperti selalu memulai perkataan dengan saudara yang kita temui atau jumpa dengan salam, tidak dengan selamt pagi atau yang lain.
Jika kita sama-sama berjuang untuk menghidupkan Sunnah Rasulullah dan melenyapkan semua bentuk bid’ah, maka Insya Allah Islam ini akan selalu jaya.
Disaat ahlu bid’ah suka mendengar musik, mari kita selalu dakwahkan dan memberikan penjelasan kepada ummat bahwa musik telah diharamkan oleh Rasul kita.
Disaat orang-orang dengan nafsunya suka berfoto-foto, maka mari kita jelaskan kepada ummat bahwa berfoto atau menggambar adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah bahkan mereka akan dipaksa untuk memberikan nyawa kepada makhluk yang ia foto atau gambar itu.
Wahai saudaraku! Teguh dan konsisten terhadap islam dizaman fitnah ini adalah sangat perlu, mari kita renungkan Firman Allah Subuhanahu Wata’ala Dibawah Ini:
{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِما كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah  maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Al-Ahqaaf: 13-14)
Saudraku seiman! Coba perhatikan orang-orang barat lagi kafir itu, mereka dengan semangatnya menampakkan diri dan syi’ar agamanya. Padahal mereka dalam kebathilan yang nyata, lalu kenapa kita tidak seperti itu? Bukankah kita dalam keadaan benar? Kalau saja mereka dengan semangatnya Menda’wahkan Agama sesatnya, seharusnya kita lebih semangat untuk Menda’wahkan Agama Islam Ini.
Mereka dengan semangat menginfakkan diri dan hartanya untuk memurtadkan Umat Islam, dan dengan itu mereka menyebar dan datang serta masuk ketempat-tempat Kaum Muslimin. Mereka menjalankan misinya dan memurtadkan saudara-saudara kita.
Kita bisa melihat realita semangat mereka, yang hasilnyapun mereka bisa memasukkan sebagian Kaum Muslimin kedalam agama mereka.
Renungkan semua ini Wahai Hamba Allah yang beriman, tidakkah hati kita sedih melihat venomena seperti ini? relakah saudara kita dimurtadkan oleh mereka musuh-musuh allah? Dimana kita dari semua ini? apa yang bisa kita lakukan untuk Islam Wahai Hamba Allah??? Sampai kapan kita berdiam diri dan membiarkan mereka terus memurtadkan saudara-saudara kita?.
Allah telah menyaksiksikan keadaan mereka dalam firmanya:
{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعاً فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ}
Artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan (.Q.s Al-anfal: 36).
Wahai kaum muslimin! Kalau saja  orang-orang kafir semangatseperti itu, maka seharusnya kita lebih semangat dalam menginfakkan harta yang kita miliki untuk kamaslahatan da’wah islam. Insya Allah apa yang kita infakkan tidak akan sia-sia. Akan tetapi allah akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Q.S Al-Baqarah: 261)
Oleh karena itu, diakhir pembahasan ini kami akan menghimbau kepada Kaum Muslimin semuanya, agar berlomba-lomba dalam memperjuangkan islam ini. menghidupkan kembali Sunnah Rasulullah yang telah lama mati.
Mari kita lihat pada kemampuan kita dalam memperjuangkan Islam ini, dalam segi mana kita berjuang. Kita berlomba-lomba dalam meraih Ridho Allah Subuhanahu Wata’ala.
Bagi seorang yang diberi oleh Allah kelebihan rizki maka infaqkan hartanya untuk kepantingan da’wah dan jihad dijalan Allah.
Bagi yang diberi Allah kelebihan Ilmu dan pengetahuan maka da’wahkan Ilmu itu kepada ummat. Jelaskan kepada mereka kebenaran yang hakiki. Keluarkan Fatwah-fatwah yang tidak menyelisihi kedua pusaka kita. Semangati para mujahid Allah dengan selalu meninggikkan mereka dihadapan ummat. Tidak sebaliknya, mencacat mereka dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar seperti yang dilakukan Ulama-ulama pemerintah sekarang. Wal’iyadzu billah!!!
Bagi yang diberi kekuatan jasmani dan kesiapan mental, infakkan diri untuk memperjuangkan Islam melalui pedang. Berjihad dijalan Allah melawan musuh-musuh allah yang ingin menghancurkan Islam. Mati syahid adalah lebih mulia bagimu dibandingkan Islam terus diinjak-injak oleh musuh-musuh Allah.
Bagi teman-teman yang bergabung dalam dunia publikasi, maka perjuangkan Islam dengan menukil berita-berita yang benar lagi bisa dipercaya, beritakan informasi-informasi yang yang mengandung dakwah dan tidak merugigan Islam dan kaum muslimin. Jangan malah sebaliknya, memberitakan hal-hal yang mengadu domba antara kaum muslimin.karena itu sama halnya anda menjadi munafik.
Bagi teman-teman yang berada dalam dunia pendidikan. Maka didiklah generasi-generasi Islam yang siap memperjuamgkan agama ini kapan dan dimana saja serta dengan apapun yang ia meliki. Menanamkan akidah yang benar dalam kehidupan mereka. Mendidik mereka menjadi generasi yang berakhlak mulia. Yang hanya ta’at pada Allah dan rasul-Nya, tidak kepada yang lainya. Menciptakan generasi yang menjunjung tinggi tauhid dan semangat melawan segala bentuk kesyirikan.
Bagi teman-teman yang berada didunia percetakan, maka cetaklah buku-buku yang Bermanhaj Nabawiyyah, tidak yang menyelisihi manhaj Islam yang baik. Jangan mau digunakan oleh aliran-aliran sesat untuk mencetak buku-buku mereka, karena itu sama halnya anda membantu mereka untuk menyebarkan agamanya.
Bagi orang-orang kaya yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi lagi mewah. Gunakan bangunan-bangunan itu untuk seminar-seminar  Islam dan perkaderan generasi tangguh Muslim. Tidak digunakan dalam hal-hal yang menyelisihi Islam. Jangan menyewakan bangunan-bangunan anda untuk tempat maksiat, apapun bentuk maksiat itu. Karena itu sama halnya anda ikut mendukung dan membantu hidupnya maksiat.
Akhir kata..mari kita selalu memohon pada Allah agar kita selalu diberi hidayahnya dan ditetapkan keteguhan dalam memperjuangkan islam yang agung ini. konsisten dan berpegang teguh terhadap kebenaran ini sampai datang ketentuan Allah...Amin…Amin…Allahumma Amin Ya Rabbal ‘Alamin!!!
وآخر دعواتنا والحمد لله رب العلمين.. أسأل الله الإخلاص في القول والعمل!ّأقول وعلي الله توكلي