Minggu, 15 Juli 2012

PENTINGNYA MENGHAFAL MUTUN


Menghafal adalah mengukir kembali sesuatu sesuai dengan lafadz aslinya didalam otak atau memori yang kita miliki tanpa ditambah atau dikurangi sedikitpun.
menghafal adalah sangat penting bagi tholubul ilmi. Dengan menghafal ia bisa menjadi seorang yang unggul dari yang lainya. Dengan menghafal ia bisa tau secara persis perkataan atau ungkapan seseorang tanpa ia mengurangi atau menambah sedikitpun dari perkataan atau ungkapan itu.
Sebagai tholibul ilmi syar’I, adalah satu keniscayaan baginya untuk menghafal matan-matan yang berkaitan dengan ilmu syar’I itu, seperti mutun aqidah, fiqih, usul fikih, kaedah usuliyah dan fiqhiyah, hadits, ilmu hadits, kaedah bahasa arab, mawaris dan ilmu-ilmu syar’I lainya, yang dimana semua itu di awali dengan menghafal al-qur’an terlebih dahulu.
Apalah ma’na sebuah perantauan yang sangat jauh kalau bukan untuk faqih dalam ilmu-ilmu yang kami sebutkan di atas. Maka hendaknya kita sebagai tholibul ilmi syar’I bertampil beda dengan seseorang yang hanya tujuannya untuk meraih ijazah atau titel belaka.
Tholibul ilmi syar’I sejak awal memang harus sadar akan posisi, kewajiban dan tanggung jawabnya diperantauan ini.
posisinya adalah pencari ilmu bukan penggerak massal terhadap gerakan apapun.
Kewajibanya adalah mencari, menggali dan mendalami ilmu syar’I dengan cara duduk dan mendengar langsung dari para ulama, juga dengan cara membaca dan menelaah serta menghafal sendiri sebagai bentuk muraja’ah dan memutqinkan ilmu yang telah didapat dari para ulama. Tidak sebalvziknya, menyibukkan diri dengan hal-hal yang telah jelas melalaikanya  dari kewajiban utama sebagai tholibul ilmu.
Tanggung jawabnya adalah menggunakan waktu yang sangat terbatas ini dengan sedemikin rupa untuk mendalami ilmu syar’I bukan mengembangkan atau menggerakkan pergerakan apapun, yang itu akan jelas melalaikan dirinya dari tanggung jawab utamanya didunia perantauan ini.
Setelah kita mengetahui akan pososi, kewajiban dan tanggung jawab sebagai tholibul ilmi syar’I, maka satu keharusan bagi kita untuk mengatur diri dan waktu yang kita miliki. Dengan cara menyusun sedemikian rupa kegiatan yang akan kita jalani kedepanya. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menghafal al-qur’an dan berapa waktu yang kita butuhkan untuk menghafal mutun-mutun itu. Berapa juz yang harus kita hafal dalam sebulan ini dan berapa matan yang harus kita tela’ah dan hafal dalam jangka pendek ini. atau apa yang sudah harus kita raih satu tahun kedepanya. Dan seberapa kemampuan kita dalam beristidlal didalam beberapa waktu kedepan.
Semua itu kita susun dan skenario sedimikian rupa agar kedepannya kita jalani dengan penuh teratur. Kapada allah kita mohon taufiq dan hidayah dan kepadanya tempat kita tawakkal, tapi usaha dan ibadah yang kuat yang harus kita tempuh.
Dibawah ini kami akan menggambarkan seperti yang digambarkan para ulama kita, mutun-mutun yang seharusnya tholibul ilmi sya’I menghafalnya agar mereka menjadi mutqin dalam hal ini. Ingatlah bahwa setiap yang menghafal adalah imam (فإن كل حافظ إمام)
1.  Al-qur’an
2.  Aqidah
· Usul Stalatsah
· Qowa’id Arba’ah
· Kitab Tauhid
· Aqidah Thohawiyah
· Aqidah Wasathiyah
· Kasyfu As-Syubhat
3. Hadits
· Arba’in Nawawy
· Umdatul Ahkam
· Buluqul Marom
4. Ilmu Hadits
· Baiquniyah
· Nukhbatul Fikr Li Ibni Hajar
5. Usul Fiqih Dan Kaedah Usuliyah
· Al-Waraqat
· Qawa’idul Fiqhiyah Li Ibni Sa’ad
6. Bahasa Arab
· Jurumiyah
7. Mawaris (Ar-Arahbiyah)
8. Doa dan dzikir
· Shohiuhul Adzkar
· Husnul Muslim
Inilah matan-matan yang perlu dihafal oleh tholibul ilmi syar’I sebagai dasar bagi mereka dalam memperluas ilmunya. tentunya semua itu harus di imbangi dengan memahami dan mempelajari syarah-syarahnya dari para ulama.
أسأل الله أن يوافقنا وأن يرزقنا بركة العلم والإخلاص في القول والعمل
 وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

MEMETIK HIKMAH DIBALIK KEMATIAN AL-QADDAFI


Siapa yang tidak kenal dengan al-qaddafi, laki-laki kelahiran 7 Juni 1942 M di pedusunan padang pasir dalam wilayah  Sirte ini baru saja dihancurkan oleh allah dengan cara yang sangat hina. Tiada lain semua itu kecuali sebagai ganjaran atas kedoliman dan kekafiranya selama ini.
Didalam masa kekuasaannya Selama 42 tahun telah banyak kedzoliman yang ia lakukan, baik itu kedzoliman terhadap manusia maupun kepada allah dan rasul-Nya. Ia menyamakan allah dengan MakhlukNya, dia pula yang merubah kalender hijriyah. Qaddafi mengatakan, “Ada banyak peristiwa sejarah yang saya yakini lebih penting dari hijrah Nabi… di antaranya adalah kewafatan Nabi SAW. Wafatnya Rasul SAW setara dengan kelahiran Isa AS… Jika kita harus membuat kalender dengan berpatokan kepada peristiwa-peristiwa sejarah, maka yang lebih utama adalah dengan berpatokan kepada kewafatan Nabi SAW. Di antara peristiwa penting adalah kewafatan Nabi, sehingga kita bisa menetapkan kalender atau menuliskan untuk umat manusia suatu sejarah sampai setelah berlalu jutaan tahun, bahwasanya ada seorang rasul penutup para nabi yang wafat pada tahun sekian, atau telah berlalu kewafatannya sejak sekian tahun atau sekian abad.” (Khuthab wa Ahadits al-Qaid ad-Diniyah, hal. 290)Sungguh dia adalah Musailamah Al-Kadzdzab Masa Kini.
Beribu-ribu nyawa kaum muslimin yang telah ia bunuh, kaum pemuda yang menyuarakan kebenaran ia penjara dan siksa. Tidak puas dengan itu, Dalam pidato kenegaraan tanggal 27 Desember 1990, Qaddafi mengatakan, “Rakyat adalah penguasa di atas muka bumi. Rakyat menentukan apapun di bumi yang ia kehendaki. Adapun Allah berada di langit. Maka tiada penengah antara kita dengan Allah.” .
Keangkuhan dan kesombongannya telah menjadikan hatinya buta dan keras, ia menolak ajakan para ulama agar ia bertobat. Begitulah thogut yang semoga allah membalas segala kejahatan dan kekafiranya selama ini dengan balasan yang pedih lagi keras.
Masih banyak perkataan al-qoddafi yang  menunjukkan sifat fir’aun dan kedustaannya. Seperti yang tertera dalam buku yang dikarang Syaikh Abdurrahman bin Hasan Al-Libi, seorang ulama dan mujahid Libya yang berjihad fi sabilillah bersama mujahidin Libya (Jama’ah Islamiyah Muqatilah, Libya) mengarang buku yang diterbitkan pada bulan Dzulhijah 1418 H (1997 M) tersebut diberi judul Qaddafi Musailamatul ‘Ashr (Qaddafi, Musailamah Kontemporer ) dan diberi kata pengantar oleh seorang ulama besar dan mujahid Libya, Syaikh Abu Mundzir As-Sa’idi Al-Libi.
Kisah ini, juga kisah presiden mesir dan tunis menjadi pelajaran bagi hamba yang mau mengambil ibroh:
1. kita adalah hamba, bukan pengatur. Apapun keadaan kita hendaknya selalu taat pada allah.
2.  Pelajaran bagi para penguasa, agar tunduk dan patuh terhadap peraturan allah bukan malah berhukum dengan hukum sampah yang dibuat oleh tangan orang-orang munafik.
3. Adil dalam segala hal. Karena jika kita berbuat dzolim maka doa orang yang terdzolimi adalah terkabul disisi allah, tidak ada penghalang antara doanya dengan allah. Kisah dalam hal ini sudah banyak sekali.
4. Tidak melakukan kesyirikan. Apapun bentuk syirik. Baik itu syirik ibadah ataupun syirik hukum.
5.  Selalu mendakwahkan kebenaran dan mengajak manusia kepada yang haq. Bukan malah sebaliknya yaitu mengajak manusia kepada kesyirikan.
6.  Sekulerisme, liberalisme, zionisme, dan hukum apapun tidak akan pernah diterima oleh allah, bahkan itu bentuk memerangi allah dan rasulNya. Siapapun yang abai dengan hukum allah dan rasulNya maka tiadalah ujung baginya kecuali kehancuran dan kebinasaan, seperti halnya fir’aun, musailamah al-kadzdzab, alhajjaj, presiden mesir, tunis, libia, yaman dan insya allah sebentar lagi presiden suria akan menyusun sanak saudaranya itu. Amin.
7. Tidak boleh siapapun yang mengatakan dirinya muslim untuk membantu orang-orang kafir dalam memerangi allah dan rasulNya serta orang-orang yang beriman.. Wala’ hanya untuk allah dan kebencian serta permusuhan adalah untuk orang-orang yang memusuhi allah dan rasulNya.
8. Tidak serakah dengan kekuasaan. Jika tidak bias berbuat adil maka mundur itu adalah lebih terhormat disisi manusia dn lebih mulia dihadapan allah.
9. Keberhasilan seorang pemimpin buka dilihat dari lamanya ia berkuasa, akan tetapi dilihat dari keberhasilanya dalam menegakkan hokum allah dan rasulnya.
10.  Kekuasaan diwariskan kepada orang-orang yang beriman bukan kepada orang fasik lagi dzolim. Jika anak presiden tidak mampu mengembang amanah allah dalam menegakkan hukum allah maka hamba sahaya yang taqwa adalah lebih berhak untuk menjadi pemimpin.
Itulah beberapa hikmah yang bias kita ambil dibalik kebinasaan al-qoddafi dan presiden mesir, tunis serta yaman. . Renungkan firman Allah dibawah ini:

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Q.S Al-Imran : 26)

ADAB KETIKA HALAQAH


Adab ketika halaqah dibagi menjadi tiga:
Pertama: Adab Sebelum Halaqah
1. Mengikhlaskan niat. Kita mencari ilmu berniat untuk menghilangkan kebodohan yang ada dalam diri kita, mencari kebenaran dan untuk meninggikan kalimat allah Bukan niat agar disebut alim atau ulama. Kita niatkan untuk mencari ridho Allah subuhanahu wata’ala, Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
    Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(Q.S Al-bayyinah: 5)
2. Kita mencari ilmu berniat untuk dida’wahkan kepada ummat nanti ketika telah pulang kembali ketempat kita masing-masing. Allah berfirman:
Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Q.S At-taubah :122)
3. Memakai pakaian yang rapi, yang enak dipandang oleh syekh, bersih lagi suci. Sebaik-baik pakaian bagi laki-laki adalah yang berwarna putih, dan sebaik-baik pakaian bagi wanita adalah yang berwarna hitam. Begitulah keadaan malaikat jibril ketika datang kepada Rasulullah shollallahu ‘Alaihi Wasallam, seperti yang disebutkan dalam hadirs masyhur. Umar Radhiyallahu Anhu berkata: ”…tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih…” (H.R Bukhari Dan Muslim)
4. Keadaaan diri siap dalam menerima ilmu dari syekh, tidak dalam keadaan capek apalagi ngantuk. Karena itu akan mempengaruhi keseriusan dalam mendengar dan menulis ilmu yang diucapkan oleh syekh.
5. Hadir dihalaqah sebelum syekh datang. Agar lebih siap dalam mendengar dan menulis ilmu dari syekh. Karena jika terlambat maka akan ketinggalan sebagian perkataan syekh dari kita.
6. Memilih tempat duduk paling depan. Hendaknya tidak ada yang menghalangi kita dengan syekh kecuali meja atau sesuatu yang ada didepan syekh. Karena dengan itu kita lebih terfokus dalam memperhatikan syekh ketika berbicara. Dan tentunya ini akan lebih membekas segala perkataan yang syekh ucapkan.
Kedua : Adab Didalam Halaqah
1. Mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Syaikh.
2. Tidak berbicara hal-hal yang lain didalam halaqah baik dengan teman disamping atau melayani telepon dan sebagainya. Oleh karena itu, seorang yang sedang berada dalam halaqah lebih utama mematikan HP atau menon aktifkannya agar disaat serius mendengar keterangan dari syekh tidak diganggu oleh bunyi miskol atau SMS.
3. Mencatat poin-poin penting yang didapatkan dari syekh didalam buku catatan khusus. karena dengan itulah kita mengikat ilmu yaitu dengan cacatan. Sehingga jika suatu saat lupa maka ada catatan yang bisa kita jadikan rujukan.
Ketiga : Adab Setelah Halaqah
1 Menanyakan pada syekh hal-hal kurang dipahami atau perkataan yang terputus yang tidak sempat ditulis.
 2. Mengulang kembali pelajaran yang didapat dari syekh. Dengan ini kita bisa lebih menguatkan pemahaman dan hafalan kita.
 3. Hendaknya dalil-dalil penting dan perkataan-perkataan ulama dihafal. Karena dengan itu kita bisa beristidlal seperti halnya para ulama kita beristidlal.
Silakan Anda Renungkan Hadits Jibril Masyhur Yang Diriwayatkan Oleh Amirul Mu’minin Abi Hafshoh Umar Bin Khattab Radhiyallah Anhu Dalam Kitab Bukhari (Hadits No 1) Dan Muslim (Hadits No 1907)…Disana Kita Bisa Mengambil Faedah Banyak Dalam Adab Tholibul Ilmu.

Ciri-ciri Tholibul Ilmi Syar’I


1. Mengikhlaskan niat dalam mempelajari ilmu agama  untuk meninggikkan islam, mencari didho Allah semata.
2. menjadikan tujuan utamanya adalah menuntut ilmu allah...adapun syahadah dan sebagainya hanya penghargaan dunia. dan itu tidak menjadikan keikhlasanya dalam menuntut ilmu allah terkikis.
3. Selalu menemani ulama-lama allah dalam menimba ilmu Allah,
4. Tidak menyibukkan dirinya kecuali dengan hal-hal yang berbau keilmuan. Sekalipun ketika berkumpul-kumpul dengan kawan-kawanya, selalu membuat suasana ilmu, saling berdiskusi, tukar ilmu dan pengetahuan.
5. Bersikap tawaddu’ dan beradab terhadap syekhnya. Menanykan hal-hal yang penting tentang ilmu yang ia butuhkan.
6. Muraoja’ah pelajaran yang didapatkan dari syekh ketika ada waktu luang (ketika syekh berhalangan)
7. Banyak membaca dan menela’ah kitab-kita yang dikarang para ulama.
8. Menuntutnya ditempat yang suci dan pada ulama yang taqwa.
9. Menulis semua poin penting yang dikatakan oleh syekh dalam halaqah atau yang didapatkan dari hasil bacaan.
 10. Rajin menghafal. Dimulai dari al-qur’an, as-sunnah sampai kepada mutun-mutun ilmu syar’I serta perkataan para ulama.
11. Mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dalam kehidupannya.
12. Menda’wahkan ilmu yang telah dipelajari kepada orang lain. Baik itu dengan perkataan atau dengan tulisan. Karena tujuan belajar adalah untuk diamalkan dan dida’wahkan.
13. Selalu ta’at pada allah dan menjauhi kemaksiatan. Karena ilmu adalah cahaya. Dn cahaya allah tidak akan menerangi orang-orang yang bermaksiat.
14. Selalu berdoa agar diberi keberkahan ilmu oleh Allah.