Minggu, 15 Juli 2012

MEMETIK HIKMAH DIBALIK KEMATIAN AL-QADDAFI


Siapa yang tidak kenal dengan al-qaddafi, laki-laki kelahiran 7 Juni 1942 M di pedusunan padang pasir dalam wilayah  Sirte ini baru saja dihancurkan oleh allah dengan cara yang sangat hina. Tiada lain semua itu kecuali sebagai ganjaran atas kedoliman dan kekafiranya selama ini.
Didalam masa kekuasaannya Selama 42 tahun telah banyak kedzoliman yang ia lakukan, baik itu kedzoliman terhadap manusia maupun kepada allah dan rasul-Nya. Ia menyamakan allah dengan MakhlukNya, dia pula yang merubah kalender hijriyah. Qaddafi mengatakan, “Ada banyak peristiwa sejarah yang saya yakini lebih penting dari hijrah Nabi… di antaranya adalah kewafatan Nabi SAW. Wafatnya Rasul SAW setara dengan kelahiran Isa AS… Jika kita harus membuat kalender dengan berpatokan kepada peristiwa-peristiwa sejarah, maka yang lebih utama adalah dengan berpatokan kepada kewafatan Nabi SAW. Di antara peristiwa penting adalah kewafatan Nabi, sehingga kita bisa menetapkan kalender atau menuliskan untuk umat manusia suatu sejarah sampai setelah berlalu jutaan tahun, bahwasanya ada seorang rasul penutup para nabi yang wafat pada tahun sekian, atau telah berlalu kewafatannya sejak sekian tahun atau sekian abad.” (Khuthab wa Ahadits al-Qaid ad-Diniyah, hal. 290)Sungguh dia adalah Musailamah Al-Kadzdzab Masa Kini.
Beribu-ribu nyawa kaum muslimin yang telah ia bunuh, kaum pemuda yang menyuarakan kebenaran ia penjara dan siksa. Tidak puas dengan itu, Dalam pidato kenegaraan tanggal 27 Desember 1990, Qaddafi mengatakan, “Rakyat adalah penguasa di atas muka bumi. Rakyat menentukan apapun di bumi yang ia kehendaki. Adapun Allah berada di langit. Maka tiada penengah antara kita dengan Allah.” .
Keangkuhan dan kesombongannya telah menjadikan hatinya buta dan keras, ia menolak ajakan para ulama agar ia bertobat. Begitulah thogut yang semoga allah membalas segala kejahatan dan kekafiranya selama ini dengan balasan yang pedih lagi keras.
Masih banyak perkataan al-qoddafi yang  menunjukkan sifat fir’aun dan kedustaannya. Seperti yang tertera dalam buku yang dikarang Syaikh Abdurrahman bin Hasan Al-Libi, seorang ulama dan mujahid Libya yang berjihad fi sabilillah bersama mujahidin Libya (Jama’ah Islamiyah Muqatilah, Libya) mengarang buku yang diterbitkan pada bulan Dzulhijah 1418 H (1997 M) tersebut diberi judul Qaddafi Musailamatul ‘Ashr (Qaddafi, Musailamah Kontemporer ) dan diberi kata pengantar oleh seorang ulama besar dan mujahid Libya, Syaikh Abu Mundzir As-Sa’idi Al-Libi.
Kisah ini, juga kisah presiden mesir dan tunis menjadi pelajaran bagi hamba yang mau mengambil ibroh:
1. kita adalah hamba, bukan pengatur. Apapun keadaan kita hendaknya selalu taat pada allah.
2.  Pelajaran bagi para penguasa, agar tunduk dan patuh terhadap peraturan allah bukan malah berhukum dengan hukum sampah yang dibuat oleh tangan orang-orang munafik.
3. Adil dalam segala hal. Karena jika kita berbuat dzolim maka doa orang yang terdzolimi adalah terkabul disisi allah, tidak ada penghalang antara doanya dengan allah. Kisah dalam hal ini sudah banyak sekali.
4. Tidak melakukan kesyirikan. Apapun bentuk syirik. Baik itu syirik ibadah ataupun syirik hukum.
5.  Selalu mendakwahkan kebenaran dan mengajak manusia kepada yang haq. Bukan malah sebaliknya yaitu mengajak manusia kepada kesyirikan.
6.  Sekulerisme, liberalisme, zionisme, dan hukum apapun tidak akan pernah diterima oleh allah, bahkan itu bentuk memerangi allah dan rasulNya. Siapapun yang abai dengan hukum allah dan rasulNya maka tiadalah ujung baginya kecuali kehancuran dan kebinasaan, seperti halnya fir’aun, musailamah al-kadzdzab, alhajjaj, presiden mesir, tunis, libia, yaman dan insya allah sebentar lagi presiden suria akan menyusun sanak saudaranya itu. Amin.
7. Tidak boleh siapapun yang mengatakan dirinya muslim untuk membantu orang-orang kafir dalam memerangi allah dan rasulNya serta orang-orang yang beriman.. Wala’ hanya untuk allah dan kebencian serta permusuhan adalah untuk orang-orang yang memusuhi allah dan rasulNya.
8. Tidak serakah dengan kekuasaan. Jika tidak bias berbuat adil maka mundur itu adalah lebih terhormat disisi manusia dn lebih mulia dihadapan allah.
9. Keberhasilan seorang pemimpin buka dilihat dari lamanya ia berkuasa, akan tetapi dilihat dari keberhasilanya dalam menegakkan hokum allah dan rasulnya.
10.  Kekuasaan diwariskan kepada orang-orang yang beriman bukan kepada orang fasik lagi dzolim. Jika anak presiden tidak mampu mengembang amanah allah dalam menegakkan hukum allah maka hamba sahaya yang taqwa adalah lebih berhak untuk menjadi pemimpin.
Itulah beberapa hikmah yang bias kita ambil dibalik kebinasaan al-qoddafi dan presiden mesir, tunis serta yaman. . Renungkan firman Allah dibawah ini:

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Q.S Al-Imran : 26)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar