Sabtu, 14 Juli 2012

KEPADA SIAPA KITA HARUS TAKUT?



Perasaan takut adalah perasaan yang  timbul dalam  jiwa yang kemudian mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu, baik itu perkataan atau perbuatan.
maka jangan heran jika mendapatkan seseorang takut untuk mengucapkan satu kalimat atau melakukan satu perbuatan dikarenakan didalam jiwanya ada rasa takut, baik itu rasa takutnya terhadap manusia ataupun kepada Allah, tergantung siapa yang ia sembah. Jika ia betul menyembah Allah maka pastilah ia lebih takut  pada Allah. Tapi jika ia menyembah selain  Allah maka rasa takutnya kepada selain Allah itu akan mengalahkan rasa takutnya pada Allah, wal’iyadzu billah.
Oleh karena itulah para ulama kita memasukkan rasa takut ini kedalam pembagian syirik yang disebut dengan syirik al-khauf.
Syirik –al-kahuf adalah merasa takut kepada makhluk yang berlebihan sehingga  mengalahkan rasa takutnya pada Allah, padahal tidak ada yang patut kita takuti kecuali Allah Subuhanahu Wata’la. Allah Subuhanahu Wata’la berfirman:
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً}
Artinya: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. (Q.S An-nisa’: 77)
Padahal dalam ayat lain Allah telah berfirman:
{فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}
Artinya: maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S Al-Imran : 175)
Begitulah keadaan orang-orang munafik, mereka lebih takut pada makhluk dari pada takut kepada Allah. Dan adapun orang yang beriman, mereka tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, karena mereka yakin dan sangat beriman dengan ayat-ayat dan janji-janji Allah Untuk orang yang takut kepada-Nya. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ}
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al-Mulk :13)

Dan Allah berfirman:
{الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ}
Artinya: (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Q.S Al-Anbiyaa’: 49)
Ingatlah wahai Hamba Allah! Dizaman yang penuh dengan fitnah ini, begitu banyak cobaan-cobaan hidup yang harus dihadapi oleh kita, termasuk cobaan yang datang dari makhluk-makhluk Allah, baik itu dari orang-orang-orang kafir ataupun munafik. Apabila kalian menemukan mereka menakut-nakutimu dengan ancaman dan azab mereka, maka teguhkanlah pendirianmu pada jalan Allah. Karena ancaman mereka itu adalah datang dari syetan melalui pemimpin-pemimpinya, Sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala berfirman:
{إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}
Artinya: Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S Al-Imran : 175)
Semua itu adalah cobaan bagi orang-orang yang beriman. Untuk mengetahui seberapa teguhnya seorang Hamba dalam berpegang teguh terhadap kebenaran. Seberapa kuat seorang hamba dalam menahan segala cobaan,  jika ia mampu dan kuat melewati semua cobaan itu, maka kemuliaan dari Allah yang ia dapatkan. Jadilah seperti para ulama Allah wahai saudara-saudaraku! karena merekalah yang paling takut kepada Allah. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّما يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَماءُ}
Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (Q.S Al-Fathir: 28)
Dan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfieman:
{أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ* الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَياةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ*}
Artinya: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.  (Q.S Yunus: 62-63)
Apapun yang menimpa mereka, tidak akan menjadi penghalang untuk selalu mengatakan kalimat yang haq. mereka selalu sabar dan tabah dalam menghadapi tantangan atau makar apapun yang dibuat oleh musuh-musuh Allah. Mereka tidak akan berhenti dalam menyuarakan kebenaran lantaran pemimpin-pemimpin thogut menakut-nakutinya. Mereka tidak pernah takut sedikitpun pada makhluk Allah, hati mereka tidak pernah gentar dengan bentuk ancaman apapun, bahkan itu menambah iman mereka. Merekalah yang dipuji oleh Allah Subuhanahu Wata’ala Dalam Firmanya.
{الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ}
Artinya: (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (Q.S Al-Imran : 173)
Dan seperti itulah seharusnya kita lakukan. Hidup yang penuh fana akan berujung pada kemuliaan atau pada kehinaan, itulah yang disebut dengan surga dan neraka. Kemanakan jatuh pilihan kita??? Jika kita selalu takut pada Allah dengan selalu ta’at dan patuh terhadap  perintahnya dan menjauhi segala laranganya maka kebahagiaanlah ujung kehidupan kita. Tapi, jika sebaliknya maka apalah yang akan kita dapatkan kecuali kehinaan.Wal-‘Iyadzu Billah, Nas’alullah Salamatan Wal-‘Afiyah
Oleh karena itulah wahai hamba Allah, jika kita dihadapkan dengan dua pilihan “ Thogut atau Allah?” maka wajib bagi kita untuk memilih Allah, karena Allahlah yang telah menghidupkan kita, memberikan rizki kepada kita, yang telah menunjukkan jalan yang lurus untuk kita dan kepadanyalah kita kembali. Dan tidak patut bagi kita untuk memilih yang lain, sekalipun kita diancam dengan kematian. Tidak layak bagi kita untuk takut pada para thogut dan ancamanya,  karena ancaman Allah lebih pedih lagi keras.
Jangan pernah takut untuk mengatakan kebenaran, dan menda’wahkanya disemua manusia sampai datang ketentuan Allah. Sekalipun ancaman datang dari segala arah. Tarbiyyah Nabawiyyah yang datang dari Allah yang maha mulia itulah yang patut kita jadikan cerminan dan uswatun hasanah, lihatlah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihi Wasallam ketika ditakut-takuti oleh kaumnya dikarenakan ia menda’wahkan kebenaran, ini terlukis jelas dalam Firman Allah Subuhanahu Wata’ala:
{وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ}
Artinya:“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka)?” (Q.S Al-an’am : 81)
Dan Firman Allah Subuhanahu Wata’ala:
{ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ}
Artinya: ." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" (Q.S Al-an’am : 80)
Dan lebih jelasnya, tertera sempurna kisah itu dalam firman Allah dibawah ini, ini semua kita renungkan untuk kemudian kita amalkan dalam kehidupan kita, inilah manhaj Rabbaniyyah dan tarbiyyah nabawiyyah yang harus kita ambil dan aplikasikan dalam venomena riil dizaman fitnah ini, Allah berfirman:
{ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لاَِبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً ءَالِهَةً إِنِّى أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَالٍ مُّبِينٍ  *وَكَذَلِكَ نُرِى إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ* فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَذَا رَبِّى فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لاأُحِبُّ الاَْفِلِينَ*  فَلَمَّآ رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَذَا رَبِّى فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لاََكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّآلِّينَ*  فَلَماَّ رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَاذَا رَبِّى هَاذَآ أَكْبَرُ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يا قَوْمِ إِنِّى بَرِىءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ*  إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ حَنِيفاً وَمَآ أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ*  وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّى فِى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِى وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْئاً وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ  *وَكَيْفَ أَخَافُ مَآ أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَىُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالاَْمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ*  الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَائِكَ لَهُمُ الاَْمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُونَ*  وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَآءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ*  }
Artinya: “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al-An’am : 74-83)
Dengan banyaknya venomena yang tidak bisa kita pungkiri dizaman sekarang, maka perlu manhaj yang benar bagi kita untuk bagaimana cara menghadapi ancaman-ancaman da’wah dan amar ma’ruf nahi mungkar yang wajib kita lakukan sehari-hari. Kalau saja dulu fir’aun mengancam Nabi Musa ‘Alaihi Wasallam akan dibunuhnya kemudian Nabi Musa tidak takut sedikitpun pada ancaman si thogut itu, maka seperti itulah seharusnya kita bersikap dalam menghadapi para thogut yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri. Allah Subuhanahu Wata’ala berfirman:
{ فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ*  قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ  *فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ*  }
Artinya: Maka setelah kedua golongan itu saling  melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Q.S Asyu’araan’ :61-63)
{وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقاً فِي الْبَحْرِ يَبَساً لا تَخَافُ دَرَكاً وَلا تَخْشَى}
Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)."(Q.S Thoha: 77)
Begitupun ketika kebenaran tampak jelas dihadapan kaum Nabi Musa yang kemudian mereka beriman dengan Allah yang mengutus Nabi Musa dan membenarkan da’wah Nabi Musa, kemudian fir’aun thogut laknatullah mengancam mereka dengan ancaman nyawa, akan tetapi mereka tetap sabar dalam menghadapi semua itu. Ini dilukiskan Allah dalam firmaNya:
{قَالَ فِرْعَوْنُ آمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّ هَذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ * قَالُواْ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ * وَمَا تَنقِمُ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ*}
Artinya: Fir'aun berkata: "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya." Ahli-ahli sihir itu menjawab: "Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (Q.S Al-A’raf : 123-126)
Dan Nabi Musapun menasehati mereka dengat kalimat yang meneguhkan pendirian dan keyakinan mereka, allah berfirman:
{قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ}
Artinya: Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Q.S Al-A’raf : 128)
Atau lihatlah kisahnya Nabi Ibrahim ‘Alaihi Wasallam dan Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wasallam, ketika kaumnya membuat makar terkadap mereka maka mereka menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subuhanahu Wata’ala, ini terlukis jelas didalam hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam diriwayatkan dalam Shohih Bukhari:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ {حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا {إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ}
Artinya: Dari Ibu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu: “Hasbunallah Wani’mal Wakil” dikatakan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihi Wasallam ketika dilempar kedalam api, dan dikatakan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wasallam ketika  orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (H.R Bukhari, nomor Hadits 4563)
Inilah manhaj yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita wahai saudaraku! Manhaj Nabawiyyah yang diwariskan oleh para Nabi kita dalam menghadapi ancaman  musuh-musuh Allah. Iman yang kuat harus terus kokok dalam jiwa, kalimat kebenaran harus terus mengalir dari bibir kita, persangkaan baik kita  pada Allah harus terus tertanam dalam jiwa. Jika kita seperti itu,  maka ancaman apapun tidak akan membuat kita berpaling dari kebenaran. Ketika menghadapi ancaman makhluk, maka ingatlah dengan ancaman Allah untuk orang-orang yang ingkar terhadapnya, maka insya Allah hati kita akan terus teguh dalam kebenaran sampai datang ketentuan Allah.
Mari kita lihat  dan renungkan kisahnya para sahabat Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam! kisah dibawah ini dilukis jaga oleh syekh kami dalam bukunya: “ Yaa Ummatal Islam Al’isti’la’u bil Iman”. Beginilah kisahnya:
1.Muhammad  Bin Ishak Berkata: “ Dari Ka’ab Al-Ahbar, sesungguhnya Habib Bin Zaid menyebutkan kepadanya apa yang terjadi denganya. Musailamah  Sang Pendusta menghalanginya diyamamah, kemudian menanyakan kepadanya keadaan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan bertanya: “ apakah Engkau bersaksi sesungguhnya Muhammad Adalah Rasul Allah? Dia menjawab: “iya”. kemudian ditanya lagi, apakah engkau menyaksikan sesungguhnya Saya Rasul Allah? Maka dia menjawab: saya tidak mendengar, kemudian Musailamah Laknatullah berkata kepadanya: “ apakah kamu mendengar ini dan tidak mendengar itu? Dia menjawab: “iya” kemudian dia di potong sedikit demi sedikit disetiap pertanyaanya, dan jawabanyapun tidak berubah sampai ia mati ditangan Musailamah. Maka  Ka’ab berkata ketika dikatakan kepadanya nama Habib: “ Demi Allah dia adalah penghuni yas namanya habib”.
2.Dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu Berkata: “ orang-orang yang pertama kali menampakkan keislamanya ada tujuh: Rasullah Shollallahu ‘alaihi waslallam, Abu bakar, Ammar dan Ibunya Samiyah, Shohib, Bilal dan  Miqdad. Adapun Rasulullah dilindungi Allah melalui Pamanya Abu Tholib, dan adapun Abu Bakar dilindungi oleh Kaumnya, dan adapun yang lainya diambil oleh orang-orang musyrik. Mereka dirantai dengan besi dan dijemur diterik matahari, maka tidaklah manusia keculi datang kepada apa yang mereka inginkan kecuali bilal, maka sesungguhnya dia merendahkan dirinya kepada Allah dan kaumnya. Kemudian mereka menyerahkanya  pada anak-anak kecil.  anak-anak itu mengambilnya dan mengaraknya  sepanjang  jalan dikota mekkah sedangkan bilal terus berka “ahad, ahad”.(Diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi, Hakim Dan Menshohihkanya, Dan Ibnu Habban Didalam Shohihnya)
3.Didalam Sira A’lamul Nubalaa’ : Dari Jalur Muhammad  Bin Khalid At-Thohan Ayah saya menghabarkan kepada kami dari Daud  dari Sya’bi ia Berkata: “ adalah para tuanya bilal mereka berbaring diatas perutnya bilal dan mereka mencegahnya dari islam dan mereka berkata: “ Agamamu Adalah Lata Dan ‘Uzza, kemudian dia menjawab: “ tuhanku  adalah Allah yang  esa lagi maha Tunggal, jika aku mengetahui kalimat yang lebih dari ini yang membuat kalian marah maka aku akan mengatakanya. Maka lewatlah Abu Bakar kepada mereka, kemudian mereka berkata: belilah saudaramu ini untuk kau bawa didalam agamamu, maka Abu Bakar membelinya dengan empat puluh auqiyah, kemudian memerdekakanya. Mereka berkata: jika kamu menolak untuk membelinya kecuali dengan saru auqiyah maka kami akan menjualnya. Abu Bakar Menjawab: “ dan aku bersumpah demi Allah jika kalian abai (dengan harga yang aku tawarkan) kecuali dengan harga segini dan segini maka sungguh aku akan memebelinya”.
( Sanad Ini Adalah Mungqothi’, Dan Ini Termasuk Riwayat Mursal  As-Sya’by ).
Itulah beberapa kisah dari sekian banyak kisah yang harus kita ambil pelajaran darinya, agar hati dan iman kita selalu teguh dan kuat dalam jiwa ketika menghadapi segala cobaan yang datang dari makhluk. Tidak sepantasnya rasa takut kita dikalahkan oleh rasa takut pada makhluq-Nya. Cukuplah pada Allah tempat kita berlindung. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ*  وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ* }
Artinya: Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? (Q.S Az-zumar: 36)
{وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ}
Artinya: dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal. (Q.S Al-Mujaadalah:10)
Ingatlah bahwa siapapun tidaka akan bisa membahayakan kita kecuali atas kehendak allah, maka kita tidak perlu takut dengan makar siapapun yang ingin menghancurkan semangat dalam menyuarakan dan menegakkan kebenaran. Itulah hukum Allah Subuhanahu Wata’ala. Mohonlah pada Allah agar kita dikuatkan hati dalam kebenaran dalam menegakkan hukum Allah maka niscaya Allah akan memberikan kepada kita petunjuk-Nya, Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ }
Artinya: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(Q.S At-taubah: 18)
Maka adapun orang yang menghalang-halangi hamba Allah yang meneggakkan hukum Allah dan melawan kesyirikan, tiadalah mereka kecuali tentara-tentara syetan yang terlaknat, dan syetan adalah pemimpin bagi orang-orang yang kafir. Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ}
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S Al-A’raf: 27)
Dan para thogut serta bala tentaranya menjadikan syetan sebagai pemimpinya sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ}
Artinya: Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Q.S Al-A’raf: 30)
Padahal makar syetan itu sunggu snagat lemah, lalu kenapa kita harus takut? Dan na’udzubillahnya lagi adalah jika rasa takut itu mengalahkan rasa takut kita pada Allah (dan jika telah sampai ditingkat ini maka rasa takut itu akan menjadi menjadi syirik, itulah yang dinamakan dengan syirik khauf)…wahai kaum muslimin, saya ingatkan lagi, bahwa tipu daya syetan itu adalah lemah, sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً}
Artinya:Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Q.S An-nisaa’: 74)
Istiqomah adalah sangat penting dalam berda’wah, yaitu selalu mengatakan kebenaran dalam keadaan apapun dan kepada siapapun maka Insya Allah kita tidak akan takut terhadap siapapun dan tidak akan gentar sedikitpun terhadap musuh manapun sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيها جَزَاءً بِما كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Al-ahqqaf :13-14)
Dizaman yang penuh dengan fitnah ini, berapa banyak orang-yang murtad dari agama Allah baik secara sadar atau tidak sadar itu salah satunya disebabkan karena ia terlalu takut kepada makhluk daripada takut pada allah. Bahkan ia berani berbuat dan berkata yang itu mengeluarkan ia dari islam hanya karena ia takut secara berlebih-lebihan pada makhluk. Kita harus lebih hati-hati wahai hamba allah dalam hal yang semacam ini, kita tidak boleh memudahkan lisan kita untuk mengikuti kata kufur mereka kecuali dalam keadaan yang betul-betul darurat dan hanya satu keadaan itu yang dibolehkan islam selain itu maka kita tidak boleh mengucapkan kata kufur. Dan itupun punya syarat yaitu hati kita tetap beriman, dan tidak kurang sedikitpun rasa iman kita pada allah, tidak timbul sedikitpun rasa wala’ kita pada mereka, kita mengucapkannya hanya untuk selamat dari ancaman nyawa itu. Tapi jika selain dari ancaman nyawa maka haram kita untuk mengucapkan kata kufur, cambukan dan pukulan serta azab mereka lebih mulia bagi kita dari pada mengucapkan kata kufur. Satu keadaan yang diperbolehkan islam itu adalah :
{إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنْ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}
Artinya : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” (Q.S An-nahl: 106)
Ini seperti yang terjadi pada kaum Nabi musa ‘alaihi wasallam, mereka menyembunyikan iman mereka karena takut terhadap azab fir’aun. Allah berfirman: 
{فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَأِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ}
Artinya: Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Q.S Yunus: 83)
Dan seperti ini pula yang terjadi pada kaum muslimin yang ada di andalus dulu, mereka menyembunyikan rasa keimananya dihadapam kaum dzolim pada saat itu. Seperti halnya juga yang dilakukan amar bin yasir.
Akan tetapi jika waktu telah memungkinkan untuk meneriakkan kata keimanan maka tidak boleh terus menyembunyikan keimanan kita, bahkan wajib bagi kita untuk mendakwahkanya disetiap ummat yang kita temui. Dan Insya Allah,  Allah akan selalu bersama kita. Dn begitulah yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita. Merekan hanya menyembuntikan keImananya ketika diancam tapi jika keadaan sudah aman maka mereka menampakkan keimananya dan mereka beribadah pada Allah sesuai dengan keadaan dan kemampuan mereka.dan itulah yang diperintahkan oleh  Rasulullah Shollallabu ‘Alaihi Wasallam Sebagaimana Dalam Sabdnya:
عَنْ أَبِى عُبَيْدَةَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : أَخَذَ الْمُشْرِكُونَ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ فَلَمْ يَتْرُكُوهُ حَتَّى سَبَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَذَكَرَ آلِهَتَهُمْ بِخَيْرٍ ثُمَّ تَرَكُوهُ فَلَمَّا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَا وَرَاءَكَ؟ ». قَالَ : شَرٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تُرِكْتُ حَتَّى نِلْتُ مِنْكَ وَذَكَرْتُ آلِهَتَهُمْ بِخَيْرٍ. قَالَ :« كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ ». قَالَ : مُطْمَئِنًا بِالإِيمَانِ. قَالَ :« إِنْ عَادُوا فَعُدْ ».
Artinya: Dari Abi Ubaidah Bin Muhammad Bin Ammar Bin Yasir Dari Bapaknya Ia Berkata: Amar Bin Aysir di ambil oleh Kaum Musyrikin dan tidak dilepasnya sampai ia menghina Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, dan menyebutkan bahwa tuhan mereka baik. Kemudian mereka meninggalkan Amar, ketika ia datang kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam . Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam  bertanya: apa yang ada dibelakangmu? Ia Menjawab: kejelekan Wahai Rasulullah! Aku tidak ditinggalkanya sampai aku mencacimu dan mengatakan bahwa tuhan mereka baik. Rasulullah Bersabda: bagaimana dengan hatimu? Ia Menjawab: tenang dengan iman, Rasulullah Bersabda: jika mereka pulang maka kembalilah ( keislam). (H.R Baihaqi)
Ini adalah dalil bahwa barang siapa  yang mencaci maki Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam  maka ia kafir. Oleh karena itu perlu rasanya kita betul-betul merenungi janji-janji Allah terhadap hamba yang betul-betul menyembah-Nya dan istiqomah terhadap itu, agar hati  terus terikat dengan ketakutan terhadap Allah,  bukan kepada yang lain-Nya. Takut berbuat dan berkata yang mengeluarkan diri dari millah, dan selalu ingat azab Allah terhadap orang yang melakukan hal itu.  Ketika seorang hamba telah mencapai derajat itu maka segala yang ia miliki akan dikorbankannya untuk Allah dan Agama-Nya., baik itu hartanya yaitu dengan cara menafkahkanya dijalan Allah atau bahkan nyawanya sekalipun yaitu dengan berjihad dijalan Allah. Mereka akan saling bersikap lemah lembut antar sesama muslim,  keras terhadap orang kafir dan munafik serta saling mencintai antara satu sama lain dengan betul-betul cinta karena Allah. Dan  meeka melakukan semua itu tanpa rasa takut terhadap musuh-musuh Allah yang berusaha menghalang-halangi mereka dalam berinfak, jihad dan wala’ terhadap sesama muslim. Inilah yang  digambarkan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ}
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (Q.S Al-Maidah :54)
Ingatlah wahai hamba allah! Bagi yang telah dikaruniai Allah harta atau rizki yang banyak maka infakkanlah sebahagian harta anda dijalan Allah untuk kepentingan dakwah islam, dan janganlah takut terhadap siapapun yang menghalang-halangi anda untuk infak dijalan Allah, dan jangan bersedih hati karena kurangnya harta anda maka balasan yang berlipat ganda bagi anda disisi Allah, Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala Berfirman:
{مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنّاً وَلا أَذىً لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S Al-Baqarah: 261-262)
Dan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهارِ سِرّاً وَعَلانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya:  Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S Al-Baqarah: 274)
Disini, kami membahas manhaj yang harus kita lakukan ketika dihadapkan ancaman-ancaman yang berusaha memalingkan kita dari kebenaran bahakan dengan azab itu mereka ingin kita murtad bersama mereka, semoga  Allah selalu melindungi kita dari hal-hal seperti itu.
Oleh karena itu ketika kita dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur maka istiqomahlah terhadap Tauhid, Bertakwalah kepada Allah dan jangan biarkan  kalimat  kufur itu mengalir dari mulut kita, Kita Selalu Mengikuti Petunjuk Allah Subuhanahu Wata’ala dan Petunjuk Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Sebagaimana Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya: Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.  (Q.S Al-An’am: 48)
{فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدىً فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya: Kami berfirman: "Turunlah  kamu  semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada  kekhawatiran  atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Q.S Al-Baqarah: 38)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar