Sabtu, 14 Juli 2012

MENJAUHI GHIBAH DITENGAH-TENGAH ZAMAN FITNAH


Kata  yang  terdiri dari enam huruf ini sering kali menjadi sebab kehancuran seseorang, baik yang mengghibah ataupun yang dighibah. Kehancuran itu baik didunia ataupun di akherat. Orang yang dighibah akan menjadi hina dan rendah dimata manusia didunia, kehormatanya menjadi hilang dimata ummat. Nama baiknyapun hancur disebabkan oleh ghibah. Orang akan cenderung menjauhinya, tidak akan mendekati apalagi bergaul denganya. Kata-katanya menjadi tidak didengar lagi oleh ummat.
Itulah kebiadaban-kebiadaban yang timbul disebabkan ghibah. Oleh karena itulah  orang yang suka memnggibah diancam keras oleh Allah Subuhanahu Wata’ala. Sungguh Allah Subuhanahu Wata’ala telah memberikan perumpamaan yang sangat hina untuk orang yang suka mengghibah, disebabkan bahaya yang menimpa saudaranya yang ia ghibah. Allah Subuhanahu Wata’ala berfirman:
{ وَلاَ يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ }
Artinya: Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-hujurat : 12)
Wahai Ummat Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam!!! tidakkah anda semua merenungi ayat yang mulia ini, sungguh ini ayat yang mulia datang dari Allah yang maha mulia, untuk dijadikan manhaj hidup hambanya agar mereka jadi mulia. wahai hamba-hamba Allah yang mulia, muliakanlah diri anda dengan manhaj rabbaniyyah yang mulia ini.
Pertanyaan yang harus kita selalu ajukan pada diri kita. sukakah kita seseorang mengungkapkan kejelekan kita dihadapan orang banyak??? Ridhokah kita digunjing dan dijelek-jelekkan orang??? Kalau memang kita tidak suka, lalu kenapa kita dengan mudah menyusun kata yang mengandung gunjingan untuk saudara kita? Kalau memang kita tidak ridho, lalu kenapa kita dengan gampang  menghambur-hamburkan aib dan kejelekan orang lain?
Sungguh perumpamaan Allah Subuhanahu Wata’la diatas sangat pantas untuk orang-orang yang suka mengghibah. Mereka diumpamakan dengan orang yang suka memakan daging mayat…ihhh, jangankan daging mayat, ikan yang belum dimasak aja kita merasa jijik untuk memakanya. Bukankah begitu wahai kaum muslimin??? Kecuali sumanto…na’udzubillah min dzalik.
Maka sungguh rugi orang yang tidak bisa menjaga mulutnya dari menggibah saudaranya, kerugian yang besar  lagi nyata. Bagaimana tidak wahai saudaraku, sungguh Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam telah bersaksi  untuk orang yang suka menghibah atau berbuat namimah ini, kesaksian  Rasulullah ini terlukis jaga didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimahullah, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda:
 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ مِنْ كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ ثُمَّ أَخَذَ عُودًا رَطْبًا فَكَسَرَهُ بِاثْنَتَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
Artinya: dari Ibnu Abbas radhiyallah ‘anhu berkata, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam melewati dua kuburan kemudian Bersabda: sesungguhnya mereka berdua sedang diazab, dan mereka tidak diazab karena hal yang besar, kemudian beliau Bersabda: “betul” adapun yang satu  karena dia jalan menyebarkan fitnah (namimah), dan yang satunya karena ia tidak membersihkan kencingnya, Ibnu Abbas Berkata: kemudian Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam  mengambil  batang kelopak korma dan membelahnya menjadi dua bagian, kemudian menancapkannya diatas kedua kuburan mereka, para sahabat bertanya: wahai Rasulullah! kenapa engkau melakukan ini? Beliau menjawab: semoga mereka berdua diringankan azabnya oleh Allah sampai batang ini mengering”. (H.R Bukhari )
Oleh karena itu wahai hamba Allah, jagalah mulut anda dari membicarakan kejelekan orang lain. Tidak ada dalil bagi anda untuk membunuh karakter saudara anda dengan cara menggibahnya, tidak ada pembenaran bagi anda untuk menghancurkan saudara anda dengan cara menggibahnya. Bahkan itu adalah satu kedzoliman yang nyata yang akan menjadikan anda rugi di dunia lebih-lebih diakherat. Takutlah pada Allah dari dosa besar ini!, sungguh mengghibah adalah bentuk kedzoliman, takutlah terhadap berbuat dzolim wahai hamba Allah. Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersada:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».
Artinya: dari jabir bin abdulullah sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersada: takutlah terhadap kedzoliman, karena kedzoliman adalah kegelapan dihari kiamat” (H.R Muslin, Hadits nomor 2578)
Bahkan didalam satu hadits disebutkan, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda
عَنْ سَلْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَجِيءُ الرَّجُلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْحَسَنَاتِ مَا يَظُنُّ أَنْ يَنْجُوَ بِهَا فَلا يَزَالُ يَقُومُ رَجُلٌ قَدْ ظَلَمَهُ مَظْلِمَةً ، فَيُؤْخَذُ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَيُعْطَى الْمَظْلُومَ ، حَتَّى لاَ تَبْقَى لَهُ حَسَنَةٌ ، ثُمَّ يَجِيءُ مَنْ قَدْ ظَلَمَهُ وَلَمْ يَبْقَ مِنْ حَسَنَاتِهِ شَيْءٌ ، فَيُؤْخَذُ مِنْ سَيِّئَاتِ الْمَظْلُومِ ، فَتُوضَعُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ
Artinya:  Dari Salman Radhiyallahu ‘Anhu sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: akan datang seseorang dihari kiamat nanti dengan kabaikan-kabaikan yang ia mililiki, dia mengira akan selamt dengan kebaikan-kebaikan yang ia miliki itu, lalu datang seorang yang telah ia dzolimi (ketika di dunia), maka di ambillah dari kebaikan yang ia miliki itu dan diberikan kepada orng yang ia dzolimi, sampai tidak tersisa lagi kebaikan yang ia miliki. Kemudian datang lagi seseorang yang telah ia dzolimi (ketika didunia)  pada hal tidak tersisa lagi sedikitpun dari kebaikannya maka diambillah kejelekan orang yang telah ia dzolimi itu kemudian diletakkan kepada kejelekan-kejelakanya.” (H.R Al-Bazzar di dalam musnadnya dan thobrani didalam mu’jamnya).
Oleh karena Itulah Hasan Al-Basri Berkata: “ aku tidak pernah menggibah siapapun, karena aku takut menjadi orang yang rugi dihari kiamat nanti.
Juga Abdullah Bin Mubarak Berkata: aku tidak pernah menggibah siapapun,  jika aku menggibah maka aku akan menggibah ayah dan ibuku karena mereka lebih utama untuk mengambil kebaikan-kabaikanku.”
Begitulah para ulama kita wahai hamba Allah, mereka sangat hati-hati dalam masalah ini karena memang berapa banyak orang yang tanpa sengaja membicarakan orang lain yang itu adalah ghibah, semoga kita semua dilindungi Allah dari perbuatan yang sangat buruk ini.
Sungguh inilah kerugian yang hakiki, wal-‘iyadzu billah! As’alullah salamatan wal’afiyah!. Setelah kita mengetahui bahwa ghibah adalah bentuk kedzoliman yang berujung pada kerugian yang nyata lalu bagaimana mungkin kita berani mendekati dosa besar ini wahai hamba Allah. Sungguh tidak ada keuntungan sama sekali bagi kita dari menggibah orang lain. Lalu apakah kita akan menjadi miskin gara-gara kita tidak menggibah orang lain? Atau apakah kita akan menjadi kaya dikarenakn kita mengghibah orang lain??? Tidak kan??? Lalu apalah ujung dari semua itu kecuali kehancuran dan kerugian yang nyata bagi kita. Na’udzu billah.
Lebih jelasnya, makna ghibah adalah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:
عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ ».
Artinya: Dari ‘Ala’ Bin Abdurrahman Dari Bapaknya Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: “ apakah kalian semua tahu apakah ghibah itu? Mereka menjawab: Allah Dan Rasulnya lebih mengetahui. Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda lagi: “ yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang dibenci oleh saudaramu “, dikatakan: bagaimana jika apa yang aku katakan itu betul-betul ada pada dirinya? Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “ jika apa yang kamu katakan itu ada pada dirinya maka sungguh kamu telah mengghibanya, dan jika apa yang kamu katakan itu tidak ada pada dirinya maka sungguh kamu telah berbuat bohong terhadapnya.” (H.R Muslim, Hadits nomor 2589 )
Wahai hamba Allah! ghibah adalah penyakit hati yang kebanyakan orang tidak menyadarinya. Berapa banyak dari manusia yang secara tidak senngaja jatuh pada maksiat ini. membicarakan aib saudaranya sendiri kepada orang lain. Mengungkapkan kelemahan seseorang dihadapan manusia, menyebarkan fitnah seseorang dihadapan ummat.  Baik sesuatu itu ada pada diri orang  yang dibicarakan itu ataupun itu hanya sekedar fitnah .
oleh karena itulah Al-mawardi menyebutkan didalam tafsirnya bahwasanya al-hasan berkata ghibah ada tiga macam semuanya ada dalam al-qur’an:
1.Datang dengan istilah ghibah yaitu: menyebutkan sesuatu yang ada pada diri saudara anda.
2.Al-ifki yaitu: menyebutkan kepadanya sesuatu yang datang kepada anda tentang dia
3.Al-buhtan yaitu: mengatakan sesuatu yang tidak ada dalam diri saudara anda.
Pada zaman fitnah ini, berapa banyak orang mengghibah saudaranya dengan dalil jarah watta’dil, maka kami akan katakan bahwa ini adalah kebongan yang nyata. Kita harus mengetahui bahwa kaedah jarah watta’dil adalah digunakan oleh para ulama hadits dalam masa periwayatan. Ini untuk kehati-hatian mereka dalam menerima berita yang datang dari Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. untuk menguatkan berita dan hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. dalam keadaan yang bersamaan merekapun tidak serta merta dalam menjarah seseorang. Anda bisa melihat dibuku-buku sejarah hadits yang mengungkapkan ilmu jarah watta’dil yang digunakan oleh para ulama hadit kita. Mereka tidak akan menjarah seseorang kecuali meninggikkanya dalam waktu yang bersamaan. Contoh rillnya adalah mereka mengatakan: si fulan adalah orang yang tawaddu’ dan wara’ tapi sering lupa atau banyak lupanya. Atau sebaliknya: si fulan adalah suka berbohong tapi dia adalah orang sangat kuat ibadahnya.
Dari sini, maka kita bisa beristidlal, bahwa para ulama hadits dimasa periwayatan menggunakan ilmu jarah watta’dil hnaya untuk menjaga hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bukan untuk mengghibah sesama muslim. Lalu dimanakah orang-orang yang suka berdalil dengan kaedah jarah watta’dil dalam mengghibah saudaranya dizaman sekarang ini???
Kalian jangan membuat syubhat dihadapan ummat dan jangan mencari pembenaran untuk menghalalkan maksiat-maksiat anda. Na’udzu billah.
Wahai saudaraku seiman! Marilah kita menjaga diri kita dari hal-hal seperti ini, menjaga mulut kita dari mengungkapkan kata-kata yang mengandung ghibah. Ingatlah bahwa kita adalah saudara dan memang orang-orang mukmin adalah bersaudara bahkan ikatan persaudaraan mukmin lebih kuat dibanding ikatan persaudaraan senasab, sebagaimana Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ».
Artinya: dari nu’man bin basyir berkata Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: “ perumpamaan orang-orang mu’min didalam saling mencintai, saling menyayangi dan saling menaruh kasih sayang adalah seperti satu tubuh yang apabila salah satu bagian merasa sakit maka bagian-bagian yang lain akan merasakan keresahan dan sakit.”   (H.R Muslim, Hadits nomor 2586)
Wahai kaum muslimin! Darah dan kehormatan sesama muslim adalah haram sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam didalam haditsnya:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا كَانَ ذَلِكَ الْيَوْمُ قَعَدَ عَلَى بَعِيرِهِ وَأَخَذَ إِنْسَانٌ بِخِطَامِهِ فَقَالَ « أَتَدْرُونَ أَىَّ يَوْمٍ هَذَا ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ سِوَى اسْمِهِ. فَقَالَ « أَلَيْسَ بِيَوْمِ النَّحْرِ ». قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « فَأَىُّ شَهْرٍ هَذَا ». قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « أَلَيْسَ بِذِى الْحِجَّةِ ». قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « فَأَىُّ بَلَدٍ هَذَا ». قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ - قَالَ - حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ سِوَى اسْمِهِ. قَالَ « أَلَيْسَ بِالْبَلْدَةِ ». قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى بَلَدِكُمْ هَذَا فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ ».
Artinya: “ Dari Abdurrahman  Bin Abu Bakar dari bapaknya ia berkata: ketika suatu hari Rasulullah duduk diatas onta dan manusia mendekat kepadanya kemudian beliau Bersabda: “  apakah kalian semua tahu hari apa ini?” mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, sampai kami akan mengira beliau akan memberikan nama selain namanya, kemudian beliau Bersabda:” Bukankah hari ini hari nahr?” Kami menjawab: betul wahai Rasulullah. Beliau Bersabda: “ bulan apa ini?” kami menjawab Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau Bersabda: “Bukankah ini bulan dzulhijjah?” kami menjawab: betul wahai Rasulullah, beliau Bersabda lagi: “negeri apakah ini?”  kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, sampai kami mengira beliau akan memberikan nama yang selain namanya. Beliau Bersabda: “ bukankah ini negeri (makkah)? Kami  menjawab:  betul wahai Rasulullah, beliau Bersabda: “ maka sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram atas kalian seperti keharaman hari, bulan dan negeri kalian ini, maka telah disampaikan, Allah menyaksikanya”. (H.R Muslim, Hadits nomor 1679)
Begitulah keadaan kita sesama muslim, kita harus saling menjaga dan mencintai antara satu sama lain, menjaga kehormatan saudara kita dengan tidak mengungkapkan kejelekan-kejelakanya dihadapan manusia banyak yang membuat ia malu dan jatuh harga dirinya dihadapan mereka. Menyayangi saudara kita dengan membela ia ketika digunjing dan dijelek-jelekkan oleh orang-orang yang suka menggibah dan memakan daging saudaranya. Ingatlah wahai hamba allah! Ketika kita menggunjing saudara kita atau ikut membenarkan gunjingan-gunjingan orang terhadap dia maka sama halnya kita telah jatuh dalam jurang kedzoliman, dan ingatlah bahwa Allah tidak suka berbuat dzolim dan tidak suka orang yang berbuat dzolim sebagaimana Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda dalam hadits qudhsinya:
Horizontal Scroll: Menjauhi Ghibah ditengah-tengah Zaman Fitnahعَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم ، عن اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ : « يا عِبادِي إِني قَد حَرمتُ الظُلمَ عَلى نَفسِي وجَعلتُهُ مُحرماً بَينَكُم فَلا تَظالَمُوا»
Artinya: Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu Dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dari Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman: “ wahai hambaku! Telah aku haramkan kedzoliman atas diriku dan aku mengharamkan pula terhadap kalian maka janganlah kalian saling mendzolimi”. (H.R Bukhari Di Dalam Adabul Mufrad, Di Shohihkan oleh Syekh Al-Bani)
Oleh karena itu, jika anda mendapatkan satu majelis yang menghidangkan pembicaraan yang mengandung ghibah maka jangan masuk kedalam majelis itu, jika anda ada didalam majelis itu maka segera tinggalkan dan jauhi tempat buruk itu karena majelis-majelis seperti itu adalah majelis yang sangat dimurkai Allah bukan majelis yang diterangkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam haditsnya dibawah ini:
عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ».
Artinya: “ Dari  Al-a’masy Dari Abi Sholeh dari Abu Hurairah ia Berkata Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam telah Bersabda: “ dan tidaklah suatu kaum berkumpul dalam rumah Allah untuk membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka kecuali allah akan menurunkan kepada mereka ketenangan jiwa dan dilindungi oleh malaikat (H.R Muslim, Hadits nomor 2699)
Karena dizaman yang penuh dengan fitnah ini, segala bentuk maksiat semuanya ada. Sampai majelis yang seharusnya dijadikan tempat menimba ilmu Allah, mempelajari Al-qur’an dan As-sunnah malah menjadi majelis ghibah, na’udzu billah. Maka jangan heran jika ada seorang yang banyak dicintai manusia karena ia suka ghibah. Itulah terbaliknya zaman sekarang. Na’uzdu billah min dzalik.
Berapa banyak orang berbicara tentang ulama, mengatakan dia begini dan dia begitu, padahal itu tidaklah lain kecuali kebohongan yang ia nukil dari suber yang tidak jelas, yang kadang itu hanya ia dapat dari syekhnya kemudian bertaklid buta dalam ikut mengghibah para ulama Allah.
Ingatlah wahai orang-orang yang beriman! Daging para ulama adalah racun. Anda mengghibanya sama halnya anda memakan racun dan ancaman allahpun lebih keras dibanding ancaman-Nya terhadap orang yang menggunjing selain ulama. Dosanyapun lebih besar, karena ini berkaitan dengan ilmu dan hukum-hukum Allah. Jika seorang terpengaruh dengan ghibah dan fitnah anda itu maka orang akan menjauhi ulama allah dan abai untuk menerima apalagi mencari ilmu darinya. Padahal allah telah telah berfirman:
{يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ}
Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S Al-mujaadalah : 11)
Dan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (Q.S Aa-Fathir: 28)
{وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ}
Artinya: dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Q.S Al-Ankabut : 43)
Dan Allah Subuhanahu Wata’ala Berfirman:
{هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ}
Artinya: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Q.S Az-zumar : 9)
Dan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda:
« وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ ».
Artinya: Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham akan tetapi mewariskan ilmu maka barang siap yang mengambilnya, maka ia telah mengambil jatah dari kekayaan” (H.R Abu Daud, Hadits Nomor 3641, dishohihkan Syekh Al-Bany)
Dari ayat dan hadits diatas maka teranglah akan keutamaan para ulama Allah, jika seseorang mengghbah mereka kemudian menimbulkan fitnah yang besar maka sama halnya ia telah menjauhkan manusia dari ulama Allah, menanam kebenci manusia terhadap ulama Allah. Ini perkara besar dihadapan allah wahai hamba allah..maka bertakwalah pada Allah dari hal-hal seperti ini. daging para ulama Allah adalah racun.
Ada beerapa bentuk mengghibah yang semuanya ini adalah haram dilakukan oleh seorang muslim pada saudaranya:
1.Dengan perkataan, contoh: dia itu begini dan begitu
2.Dengat isyarat kepala atau tangan: menggerakkan kepala, atau mengajukan jempol ketika seorang menggunjing orang
    lain yang  itu menunjukkan setujunya terhadap gunjingan itu
3.Dengan diam menunjukkan ia setuju akan ghibah itu.
Oleh karena itu jika anda menemukan orang atau majelis yang sedang menggibah maka:
1.Jauhi orang atau majelis itu jika anda mengetahui bahwa ia suka mengghibah
2.Tinggalkan orang atau majelis yang sedang mengghibah jika anda sedang ada didalamnya
3.Ingatkan mereka akan bahaya orang-orang yang suka menggunjing atau mengghibah
4.Jangan menyebarkan ghibah yang anda dengar
Jika kita jatuh pada salah satu poin yang kami sebutkan diatas maka sungguh kita telah jatuh dalam fitnah ghibah, na’udzu billah! takutlah pada Allah wahai hamba Allah, mari kita selalu memelihara telinga dan mulut kita dari agar tidak jatuh kedalam fitnah ghibah. Dan Semoga Allah Subuhanahu Wata’ala melindungi kita semua dari fitnah ghibah, dan semoga Allah membalas segala kejelekan orang-orang yang suka mengghibah, karena tidaklah mereka kecuali perusak dan pembuat kehancuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar